kibar, Pola Pikir

Renungan Panjang Setelah Ngobrol Dengan +101 Calon Anak KIBAR

Sejak 5 tahun lalu, KIBAR gak punya divisi Human Resource. Baru kemarenan aja akhir Januari akhirnya punya, soalnya di bawah KIBAR udah ada belasan perusahaan. Agak peer kalau gak punya.

Gimana caranya ngerekrut anak baru kalau gitu?

Continue reading

Advertisements
Standard

 

Yang muda, yang ber… (silakan isi sendiri).

Harusnya vlog tuh ada bagian orang yang ngevlognya kasi-kasi komentar gitu ya? Merasa awkward sih kalau ngeshoot muka sendiri, jadi gak jadi deh. Seruan liat ekspresi orang-orang! Banyak makna yang gak bisa diungkap kata-kata.

Hidup, Uncategorized

Awal-Awal Berkibar

Sudah satu bulan saya bergabung di Kibar. Iya, berarti ini udah satu bulan ngekost di Jakarta. Ternyata gak semenyeramkan itu! Mungkin karena Papa dan temennya yang jagoan sih milih kosannya. Penjaga kosannya baik, malah pernah ngirim gambar tentang ingat berdzikir gitu lewat LINE. Bisa menjaga rohaniah penghuninya juga ternyata. Kalau ke kantor, tinggal naik sepeda, jalannya lurus terus, cuma harus lewatin 3 persimpangan aja, jaraknya kira-kira 1.5 KM. Tapi sedeket-deketnya jarak tempuh ini, jangan bilang “yaelah, tinggal ngesot doang, Dhil,” karena saya jamin, ngesot di lantai yang baru dipel sama Wipol jarak 2 meter pun pasti bisa bercucuran air mata.

Kenapa? Wipol itu buat bersihin kamar mandi bukan buat pel lantai?

Yaudah, ngesot di lantai kamar mandi juga sakit kan, contohnya tetap valid berarti.

Kalau tadi perginya naik sepeda, jangan kalian simpulkan kalau pulang ke kosannya juga naik sepeda, ya! Kenapa? Soalnya pulangnya naik mobil. Kok bisa? Lanjutin dulu aja bacanya.

Continue reading

Standard

Karena postingan blog yang harusnya di post di awal minggu ketiga di Kibar itu gak beres-beres, saya putuskan untuk bikin vlog! Biar kerasa urgensinya tinggi, harus fresh from the event (haha istilah apa nih). Nulis blog itu harus mikir lama, biar tulisannya bisa dimengerti orang dengan sekali kedipan mata. Tapi, karena terlalu sibuk bekerja untuk Indonesia, jadi postingannya agak ketunda. Iya, beneran kerja buat Indonesia kalau di Kibar, tuh!

Hidup

Ketika Bandung Hujan

Bandung sekarang sering hujan. Apa Bandung menangis? Menangis karena Dhila bakalan tinggal di Jakarta tiap Senin sampai Kamis? Kayaknya nggak sih. Sepertinya Bandung rela-rela saja, apalagi saya sudah pernah menghilangkan kartu tanda pengenal saya. Mana mungkin Bandung kenal sama saya. Teman-teman yang kenal saya saja berpikir Dhila ini orang Jakarta. Logat Sunda saya hilang sepertinya. Siapa yang ambil?! Tolong kembalikan pada yang bersangkutan.

Dhila beneran bentar lagi pindah ke Jakarta, itu jangan dianggap kalimat bohongan ya, walaupun saya suka bercanda. Sempat terpikir kalau tinggal di Jakarta tuh pasti asyik gitu, hidupnya serba cepat. Tapi pas beneran sekarang mau pindah ke Jakarta, yang kepikiran adalah gimana caranya cepat pulang ke Bandung. Saya pindah ke Jakarta itu bukan karena di sana itu asyik sih sebenernya, tapi karena ada beberapa hal yang mau saya kejar. Saya harus membuat tulisan ini jadi sebuah pengingat untuk meyakinkan diri saya kalau saya tinggal di Jakarta itu untuk tujuan yang lebih besar, kalau kalau saya nanti di Jakarta galau pengen pulang ke Bandung.

Continue reading

Standard
Pengalaman

Apa “Mengapa” Kita?

Untuk memulai membuat bisnis itu sangatlah mudah. Ide bisa datang dari mana saja. Lagi tiduran di rumah, terus kamar adik lagi kosong satu minggu, soalnya dia lagi kemping, bisa deh tuh dibikin kos-kosan (kos-kosan apa coba yang satu minggu). Rumah saya deket kampus, pasti banyak yang butuh tuh.

Saya suka desain grafis dan seneng bikin kayak poster gitu-gitu, kenapa nggak bikin kartu ucapan juga sekalian buat dijual? Apalagi sekarang banyak banget yang pengen bikin kartu ucapan yang personalized, yang beda dari yang biasanya ada di toko-toko.

Continue reading

Standard