Pola Pikir

Karena #BahagiaItuSederhana

Setelah kemarin ini sempat bahas tentang cara terjitu untuk berteman, baru-baru ini saya berpikir tentang apa formula terjitu yang bisa seseorang lakukan untuk dapat merasakan kebahagiaan. Munculnya dari mana?

Zaman sekarang, sulit rasanya untuk mendeteksi apakah seseorang itu bahagia atau tidak karena makin ke sini, makin saru. Apalagi sejak ada hashtag #BahagiaItuSederhana. Kadang bikin orang salah persepsi karena bisa saja orang langsung melakukan penyimpulan sederhana tanpa mengkaji lebih dalam karena banderol “sederhana”-nya itu, menangkap makna secara eksplisit.

Continue reading

Standard
Pola Pikir

Tentang Dendam

Saya muak jadi orang positif.

Awalnya, bermula dari banyaknya komentar orang, “Dhila tuh orangnya positif banget, ya!” Untuk komentar ini, saya gak bisa bilang engga karena di hasil Strengthsfinder saya salah satu top 5 strengthnya adalah “Positivity”. Teruji dan dapat divalidasi gitu berarti. Secara de jure dan de facto.

Saya jarang merasa terganggu karena melihat semua berjalan dengan baik-baik saja, kalau pun sesuatu yang buruk terjadi, ya, pasti ada hikmahnya. Untuk semua hal yang terjadi, saya berpikir, sebisa mungkin, tidak ada yang disesali karena berasal dari pilihan sendiri dan konsekuensinya sudah dipikirkan dari jauh-jauh hari.

Lama-lama, saya merasa ada yang salah dengan pola pikir positif ini. Rasa-rasanya jadi terlalu permisif.

Continue reading

Standard

 

Yang muda, yang ber… (silakan isi sendiri).

Harusnya vlog tuh ada bagian orang yang ngevlognya kasi-kasi komentar gitu ya? Merasa awkward sih kalau ngeshoot muka sendiri, jadi gak jadi deh. Seruan liat ekspresi orang-orang! Banyak makna yang gak bisa diungkap kata-kata.

Pola Pikir

Satu Cara untuk Jadi Temennya Semua Orang

Di jaman kekinian ini, berteman itu mudah, sesimpel meng-klik tombol add to my friends, dan voila! You are now everybody’s friend! Tinggal jaga baik pertemanan hangat ini dengan memberi Like secara berkala saja, kalau bisa, yaa jadi orang yang nge-like habis ada 10 orang dulu yang nge-like aja, biar ga dikira stalker. Lalu, biasakan ngepost sesuatu yang bisa bikin orang lain relate dengan kamu. Entah itu keceriaan yang membuncah-buncah atau kesedihan yang mengiris urat nadi, pokoknya yang biasanya orang lain alami deh.

Hm, hm, coba pikirkan lagi, seharusnya berteman nggak seribet itu kok. Iya, yang di atas tadi tuh ribet.

Sekarang, coba kita bedah anatomi pertemanan. Jir, bedah, coy, bahasanya! Tenang, kajian kita ini ga akan bikin tambah ribet kok. Bayangkan ini tuh kayak mau membedah sebuah…balon helium. Iya, ini bakalan bikin kita kaget karena saat balonnya meletus, kita baru sadar bahwa untuk berteman itu sesimpel letusin balon! Gak diapa-apain aja balon tuh bisa meletus kok.

Oke, kita mulai.

Continue reading

Standard
Babak Baru

Awal-Awal Berkibar

Sudah satu bulan saya bergabung di Kibar. Iya, berarti ini udah satu bulan ngekost di Jakarta. Ternyata gak semenyeramkan itu! Mungkin karena Papa dan temennya yang jagoan sih milih kosannya. Penjaga kosannya baik, malah pernah ngirim gambar tentang ingat berdzikir gitu lewat LINE. Bisa menjaga rohaniah penghuninya juga ternyata. Kalau ke kantor, tinggal naik sepeda, jalannya lurus terus, cuma harus lewatin 3 persimpangan aja, jaraknya kira-kira 1.5 KM. Tapi sedeket-deketnya jarak tempuh ini, jangan bilang “yaelah, tinggal ngesot doang, Dhil,” karena saya jamin, ngesot di lantai yang baru dipel sama Wipol jarak 2 meter pun pasti bisa bercucuran air mata.

Kenapa? Wipol itu buat bersihin kamar mandi bukan buat pel lantai?

Yaudah, ngesot di lantai kamar mandi juga sakit kan, contohnya tetap valid berarti.

Kalau tadi perginya naik sepeda, jangan kalian simpulkan kalau pulang ke kosannya juga naik sepeda, ya! Kenapa? Soalnya pulangnya naik mobil. Kok bisa? Lanjutin dulu aja bacanya.

Continue reading

Standard

Karena postingan blog yang harusnya di post di awal minggu ketiga di Kibar itu gak beres-beres, saya putuskan untuk bikin vlog! Biar kerasa urgensinya tinggi, harus fresh from the event (haha istilah apa nih). Nulis blog itu harus mikir lama, biar tulisannya bisa dimengerti orang dengan sekali kedipan mata. Tapi, karena terlalu sibuk bekerja untuk Indonesia, jadi postingannya agak ketunda. Iya, beneran kerja buat Indonesia kalau di Kibar, tuh!

Babak Baru

Ketika Bandung Hujan

Bandung sekarang sering hujan. Apa Bandung menangis? Menangis karena Dhila bakalan tinggal di Jakarta tiap Senin sampai Kamis? Kayaknya nggak sih. Sepertinya Bandung rela-rela saja, apalagi saya sudah pernah menghilangkan kartu tanda pengenal saya. Mana mungkin Bandung kenal sama saya. Teman-teman yang kenal saya saja berpikir Dhila ini orang Jakarta. Logat Sunda saya hilang sepertinya. Siapa yang ambil?! Tolong kembalikan pada yang bersangkutan.

Dhila beneran bentar lagi pindah ke Jakarta, itu jangan dianggap kalimat bohongan ya, walaupun saya suka bercanda. Sempat terpikir kalau tinggal di Jakarta tuh pasti asyik gitu, hidupnya serba cepat. Tapi pas beneran sekarang mau pindah ke Jakarta, yang kepikiran adalah gimana caranya cepat pulang ke Bandung. Saya pindah ke Jakarta itu bukan karena di sana itu asyik sih sebenernya, tapi karena ada beberapa hal yang mau saya kejar. Saya harus membuat tulisan ini jadi sebuah pengingat untuk meyakinkan diri saya kalau saya tinggal di Jakarta itu untuk tujuan yang lebih besar, kalau kalau saya nanti di Jakarta galau pengen pulang ke Bandung.

Continue reading

Standard