Hidup

Tentang Papa

Jangan pernah dorong dirimu untuk melakukan hal yang kamu gak bisa. Itu adalah hal yang melelahkan. Pikiran buruk menghantui sepanjang waktu. Apa yang terjadi kalau yang kamu usahakan itu malah gak kejadian? Lebih baik diam di zona nyaman saja, semua hal sudah berjalan seperti biasanya, aman dan tenteram. Mungkin tidak semua orang memiliki zona nyaman, tetapi saya salah satu yang punya.

Continue reading

Advertisements
Standard
Hidup

Karena #BahagiaItuSederhana

Setelah kemarin ini sempat bahas tentang cara terjitu untuk berteman, baru-baru ini saya berpikir tentang apa formula terjitu yang bisa seseorang lakukan untuk dapat merasakan kebahagiaan. Munculnya dari mana?

Zaman sekarang, sulit rasanya untuk mendeteksi apakah seseorang itu bahagia atau tidak karena makin ke sini, makin saru. Apalagi sejak ada hashtag #BahagiaItuSederhana. Kadang bikin orang salah persepsi karena bisa saja orang langsung melakukan penyimpulan sederhana tanpa mengkaji lebih dalam karena banderol “sederhana”-nya itu, menangkap makna secara eksplisit.

Continue reading

Standard
Hidup, Pola Pikir

Tentang Dendam

Saya muak jadi orang positif.

Awalnya, bermula dari banyaknya komentar orang, “Dhila tuh orangnya positif banget, ya!” Untuk komentar ini, saya gak bisa bilang engga karena di hasil Strengthsfinder saya salah satu top 5 strengthnya adalah “Positivity”. Teruji dan dapat divalidasi gitu berarti. Secara de jure dan de facto.

Saya jarang merasa terganggu karena melihat semua berjalan dengan baik-baik saja, kalau pun sesuatu yang buruk terjadi, ya, pasti ada hikmahnya. Untuk semua hal yang terjadi, saya berpikir, sebisa mungkin, tidak ada yang disesali karena berasal dari pilihan sendiri dan konsekuensinya sudah dipikirkan dari jauh-jauh hari.

Lama-lama, saya merasa ada yang salah dengan pola pikir positif ini. Rasa-rasanya jadi terlalu permisif.

Continue reading

Standard
Hidup, Uncategorized

Awal-Awal Berkibar

Sudah satu bulan saya bergabung di Kibar. Iya, berarti ini udah satu bulan ngekost di Jakarta. Ternyata gak semenyeramkan itu! Mungkin karena Papa dan temennya yang jagoan sih milih kosannya. Penjaga kosannya baik, malah pernah ngirim gambar tentang ingat berdzikir gitu lewat LINE. Bisa menjaga rohaniah penghuninya juga ternyata. Kalau ke kantor, tinggal naik sepeda, jalannya lurus terus, cuma harus lewatin 3 persimpangan aja, jaraknya kira-kira 1.5 KM. Tapi sedeket-deketnya jarak tempuh ini, jangan bilang “yaelah, tinggal ngesot doang, Dhil,” karena saya jamin, ngesot di lantai yang baru dipel sama Wipol jarak 2 meter pun pasti bisa bercucuran air mata.

Kenapa? Wipol itu buat bersihin kamar mandi bukan buat pel lantai?

Yaudah, ngesot di lantai kamar mandi juga sakit kan, contohnya tetap valid berarti.

Kalau tadi perginya naik sepeda, jangan kalian simpulkan kalau pulang ke kosannya juga naik sepeda, ya! Kenapa? Soalnya pulangnya naik mobil. Kok bisa? Lanjutin dulu aja bacanya.

Continue reading

Standard
Hidup

Ketika Bandung Hujan

Bandung sekarang sering hujan. Apa Bandung menangis? Menangis karena Dhila bakalan tinggal di Jakarta tiap Senin sampai Kamis? Kayaknya nggak sih. Sepertinya Bandung rela-rela saja, apalagi saya sudah pernah menghilangkan kartu tanda pengenal saya. Mana mungkin Bandung kenal sama saya. Teman-teman yang kenal saya saja berpikir Dhila ini orang Jakarta. Logat Sunda saya hilang sepertinya. Siapa yang ambil?! Tolong kembalikan pada yang bersangkutan.

Dhila beneran bentar lagi pindah ke Jakarta, itu jangan dianggap kalimat bohongan ya, walaupun saya suka bercanda. Sempat terpikir kalau tinggal di Jakarta tuh pasti asyik gitu, hidupnya serba cepat. Tapi pas beneran sekarang mau pindah ke Jakarta, yang kepikiran adalah gimana caranya cepat pulang ke Bandung. Saya pindah ke Jakarta itu bukan karena di sana itu asyik sih sebenernya, tapi karena ada beberapa hal yang mau saya kejar. Saya harus membuat tulisan ini jadi sebuah pengingat untuk meyakinkan diri saya kalau saya tinggal di Jakarta itu untuk tujuan yang lebih besar, kalau kalau saya nanti di Jakarta galau pengen pulang ke Bandung.

Continue reading

Standard
Hidup

Tentang Rutinitas

Hola!

Sejak lulus dari sidang tugas akhir hidup-hidup dan baru saja Sabtu kemarin menjalani prosesi wisuda, saya memiliki rutinitas baru, yang kadang bikin bingung. Rutinitasnya adalah… menentukan kegiatan terbaik apa yang mau saya lakukan hari ini. Saya termasuk orang yang suka melihat suatu hal itu benar untuk dilakukan jika hal tersebut membawa manfaat. Tapi… perasaan dulu saya orangnya gak kayak gitu sih pas SMP. Gara-gara insiden gak masuk SMA yang diinginkan lah yang memacu perubahan ini. Sempat mikir lebay kayak, hidup ini gak adil. Lama-lama jadi mikir, kalau gitu sih tinggal kita aja mau jadi pembawa keadilan atau enggak, ya gak? Brb, ganti kostum wonderwoman. Gak deng, belum nyewa kostumnya. Terlebih lagi, gak bagus kalau kostum wonderwoman dipakai bersama manset panjang. Bukan kodratnya.

Continue reading

Standard
Hidup

Sebelum Mulai Lari Lagi

Sekarang sudah di penghujung tahun 2014. Tahun depan itu jadi tahun 2015. Harusnya sih tahun depan saya sudah lulus kuliah. Tapi kayaknya saya masih betah sama kehidupan kuliah, gak usah buru-buru lah ya. Ini bukan alasan takut buat disidang tapi hasil dari sebuah pemikiran matang. Makin dipanjang-panjangin makin kayak ngeles ya? Gak kok ini gak ngeles!

Sudah 2 bulan berselang (dari postingan terakhir) dan, iya, itu adalah 2 bulan paling sibuk di tahun ini. Thank god, walaupun sudah terpikir berkali-kali untuk mengibarkan bendera putih tanda menyerah, tapi saya lebih nyerah nyari kain putihnya buat diiket dijadiin bendera, rupanya.

Jadi, apa aja yang ada di 2 bulan kemarin?

Continue reading

Standard