Berkelana, Curahan Hati, Merekam Makna

Pagi dan Konsekuensi

Terbangun. Kurasa-rasa, dingin dari jempol kaki hingga ke ubun-ubun. Kuingat-ingat, laki-laki, perempuan, perempuan, perempuan, perempuan, dan lalu aku, di ujung ruangan. Oh, kusedang menginap bersama teman.

Continue reading

Standard
Berkelana

Menginjak Tanah Lain

Assalamualaikum.

Saya ingin melaporkan bahwa saya baru saja berada di tempat yang belum pernah saya kunjungi. Belum pernah saya apa-apain. Emang saya suka ngapa-ngapain ya? Gitu deh. Saya sekarang sudah mendapatkan beberapa cap di bagian halaman visa paspor saya. Paspor saya, loh, bukan paspor yang nebeng sama orang tua. Dengan demikian, saya resmi telah memegang pegangan pintu di tiga negara. Indonesia, SIngapura, dan akhirnya, Malaysia. Inilah perjalanan di negeri lain yang saya bisa ingat benar-benar, mengingat memori saya di masa TK yang masih bisa saya putar ulang di ingatan secara jelas itu saat saya dijambak teman saya waktu TK, saat saya memakai topi Tersayang yang sedang booming pada zaman itu, saat mainan lego masak-masakan saya dipinjam teman padahal saya tidak rela, saat saya membangkang tidak mau memerankan ibu petani dan lebih memilih menjadi polisi bersama teman-teman laki-laki, dan saat saya meminum kuah sayur bayam yang rasanya sangat berkesan hingga sekarang, dan lain-lainnya hanya samar-samar.

Mungkin tidak bisa selamanya saya ingat, sih. Mungkin saja saat saya sudah lulus kuliah nanti, atau dua puluh tahun setelah liburan ini, saya yang di masa depan sudah hanya menyisakan ingatan yang samar-samar tentang apa yang saya alami di liburan kali ini. Maka dari itu, post ini sebagai pengingat untuk saya yang di masa depan. Sebenarnya sih, semua post yang saya tulis pun untuk mengingatkan pada diri saya yang di masa depan tentang asam manis kehidupan yang saya alami saat ini. Agar semua yang saya alami ini akan tetap mempunyai arti.

Liburan ke Malaysia ini akomodasinya hampir fully-supported oleh Uwa Winny dan Uwa Amin. Ajakan untuk berlibur ini tiba sebelum saya menjalani UTS kalau tidak salah. Kalau tidak salah, berarti benar. Nah, kalo belanja, itu gimana sejago-jagonya saya untuk melobi mama. Biasanya, mama lebih mudah diajakin beli makanan daripada barang. Itu agak masalah, soalnya saya suka makan, lebih tepatnya, lapar mata. Makanan yang dibeli harus habis. Kalau gak bisa ngabisin, berarti Faiz harus diikutsertakan dalam setiap perjalanan yang ada bagian makan-memakannya soalnya dialah tempat semua makanan yang tak habis bermuara.

Awalnya saya agak ragu untuk ikut atau tidak. Takutnya masih kuliah. Saya teringat suatu hal saat saya berada dalam dilema terdalam tentang liburan ini. Di dunia ini ada yang namanya Kalender Jadwal Kurikulum Semester. Semua jadwal perkuliahan ITB secara general tertera di sana. Langsung saya cari deh kalendernya. Ngomong-ngomong, kalendernya udah kerobek Faiz. Dia sotoy-sotoy gitu mau nempel kalendernya di kamar. Kan awalnya kalendernya digulung, pake kertas dan selotip gitu. Pas kertasnya mau dirobek, kalendernya ikutan kerobek. Sumpah ini kalender tingkat inisiatifnya tinggi amat. Robek sebelum waktunya. Terus saya marahin Faiz. Tapi ga tega udahnya. Abis Faiz baik banget sih.

Intinya, dari kalender tersebut saya tahu bahwa di waktu keberangkatan yang ditentukan bertepatan dengan liburan! Yey.

Pada hari-H, kami berangkat ke Jakarta menggunakan travel Cipaganti. Travel ini ada aksesorisnya, yaitu stop kontak. Saya sebut aksesoris karena ya cuma aksesoris, ga ada fungsi lain buat menyalurkan listrik. Saya gak bisa nge-charge iPhone saya. Daripada diem aja, ga bisa ngecharge iPhone, saya ngecharge badan aja. Saya tidur. Nggak pake selimut, soalnya gak pake bantal. Gak nyambung, soalnya gak ada kabel.

Sesampainya saya di bandara, saya turun dari travel dan menghirup nafas panjang. Liburan ini akan saya mulai. Berbeda dengan mama, turun travel, hal yang pertama beliau lakukan adalah…update status. Udah gitu salah lagi statusnya. Kan mama check-in gitu pake Facebook. Rencananya check-in di Bakmi GM, Bandara Soekarno-Hatta. Eh, malah pilih yang typo. Soekarna-Hatta. Mana keupdate-nya ga cuma di FB, langsung otomatis ke BBM juga. Kalau aku jadi mama, aku langsung mengkonfirmasi ke khalayak kalau BB aku dibajak Faiz. Atau BB-nya kan dimasukin ke saku celana jeans di bagian pantat pas lagi duduk kepencet, kebuka aplikasi Facebook, ke-scroll terus kepencet check-in. Atau pas lagi pipis di toilet bandara, BB-nya kecemplung dan tau-tau ngeupdate status sendiri. Nothing is impossible, right?

Senengnya ke Bandara Soetta itu, ada Beard Papa’s (di terminal tertentu). Sebagai penggila kue sus sejak TK karena kue ini suka ada di acara ulang tahun teman-teman, saya merasa adanya Beard Papa’s ini adalah revolusi di dunia kue sus. Kuenya hangat, lalu disuntikkan fla dingin rasa vanilla. WOW. Hidung saya terbelalak dan mata saya kembang kempis. Makan kue sus-nya Beard Papa’s itu salah satu momen life-changing bagi saya. Haha gak deng. Pokoknya, momen berharga deh. Walaupun tak semahal momen makan Pop Mie sambil duduk di dalam pesawat terbang. Mahal beli tiket pesawatnya.

Hari itu, aku memakai pakaian dengan gaya yang paling keren menurutku (pakai “aku” aja, ya, biar unyu). Aku memakai swater biru tua dengan motif-motif hati yang kecil berwarna pink. Tolong jangan bayangkan sweaterku itu sama dengan boxer putih bermotif love-love warna merah yang biasa ada di film-film, ya, aku mohon. Aku mohon dengan sangat (hm, kalimat ini kayak di film apa ya…lupa). Lalu, aku menggunakan celana panjang chino yang kubeli di temanku. Temanku ini mempunyai usaha konveksi jeans, namanya Trios Jeans. Harganya terbilang murah loh, sewaktu aku pesan, harganya 130ribu. Temanku bilang, itu harga persahabatan. Awalnya, aku sempat berpikir, semurah itukah harga jalinan persahabatan antara aku dan dia? Persahabatan yang diselingi suka dan duka? Persahabatan yang dirintis sejak dahulu kala?! Gak deng. Untuk alas kaki, aku menggunakan sepatu adidas warna ungu andalanku. Sepatu yang menemaniku dari zaman UAS Olahraga kelas 12 di SMA, hingga UAS Olahraga semester satu di era perkuliahan. Yap, inilah penampilan yang sekiranya dapat membedakan aku sebagai turis dengan calon TKW.

IMG_3871Ah-syik.

Perjalanan di udara tak terasa begitu lama. Aku habiskan waktu bengong dengan membaca novel yang ditulis Ika Natassa, A Very Yuppy Wedding. Tau gak sih lo? Ika Natassa resmi jadi salah satu penulis novel favoritku. Semua novelnya sudah aku lalap habis. Urutan aku membacanya, Antologi Rasa, Divortiare, Twivortiare, dan A Very Yuppy Wedding. Novel-novel ini memberiku gambaran tentang kehidupan orang-orang yang sudah benar-benar menginjak masa dewasa. Membayangkannya asyik juga. Oh iya, ada bagian di novel ini yang membahas tentang topik yang pernah diberikan oleh Pak Aurik, sang dosen IMSB. Tentang bisnis kelapa sawit gitu dan istilah-istilahnya kayak CPO, terus… hm…. apa ya… lupa. Pokoknya, ada dua kesimpulan yang bisa saya ambil dari kejadian unik nan mengejutkan ini. Ika Natassa memang belajar bisnis (karena dia seorang banker) atau Pak Aurik suka baca novel metropop karyanya Ika Natassa di waktu senggangnya setelah memberikan kuliah.

Selama liburan di Malaysia, 5 hari 4 malam, tiada hari tanpa makan, deh! Terus ada fakta menarik! Semua orang juga makan setiap hari. Kecuali mereka yang tidak berkecukupan. Mari doakan semoga makin berkurang orang yang kesusahan. Eh, semoga kita diberi kekuatan dan kesempatan dapat membantu orang yang kesusahan deh!

Pada hari pertama, kami sampai di Hotel Cititel sekitar jam delapan malam. Hotel kami ini berdempetan dengan Mall Midvalley. Macam Trans Hotel dengan Trans Studio Mall lah. Lalu, kami makan malam di food court mall ini. Oleh Uwa Amin, per orang dari kami mendapatkan 25 ringgit. Uang ini dibagikan setiap mau makan. Terserah mau dipake semuanya buat makan atau uangnya langsung dimakan juga terserah. Kalau dirupiahkan, 25 ringgit ini sekitar 75 ribu. Pada malam itu, saya memutuskan akhirnya untuk membeli makanan. Kalau minuman, kan ada Faiz yang beli teh tarik. Yes.

Hari kedua, kami menuju ke rumah Aa Farhan. Ngomong-ngomong kami di sana tidak berpergian sendirian. Ya iya, orang udah pake kata “kami” bukan “saya”. Nggak deng. Maksudnya, perjalanan kami di sana dipandu oleh Aa Farhan dan Abang Ain selaku event organizer. Bercanda deng. Masa EO jadi pemandu jalan, kan harusnya traveller guide. Nggak deng. Karena Aa Farhan dan Abang Ain yang sudah lama di Malaysia, makanya yang nganter ke mana-mana. Masa Dhila yang nganter. SIM aja baru punya, paspor aja baru dicap, braces gigi aja baru dibuka. Fyi, bagian ngomongin braces baru dibuka itu sebenernya mau pamer, gigi aku udah rapi.

Rumah Aa Farhan itu di Equinox, di daerah… ga tau daerah apa. Di mobil ketiduran. Sebenernya bukan naik mobil biasa, tetapi mobil van. Mobil van itu kalau Anda nggak tau, coba nonton film-film Amerika yang temanya penculikan atau action deh. Biasanya kan penjahatnya ngumpet di mobil van, nyiapin pistol, terus nembakin orang. Bukan nembak cewek. Nanti bukan film dong namanya, reality show “Katakan Cinta” yang populer di kalangan ABG tahun 2000-an. Tau kan, mobil van itu yang kayak gimana? Bilang tau, aku jadi pacar kamu. Bilang nggak tau, aku juga jadi pacar kamu. Ups, gara-gara saya juga angkatan 2000-an nih SD-nya, jadi pernah nonton “Katakan Cinta”.

IMG_3886Di dekat perumahan Aa Farhan. Semacam kawasan yang banyak chinese-nya.

IMG_3900The Mines. Ini mall, dan bisa ke dalam sini naik perahu.

Hari ketiga, tujuan pertama kami ke KLCC. Lihat menara kembar. Yang ngelahirin menara ini siapa ya, kok bisa kembar, dan tinggi-tinggi pula. Ujungnya menusuk ke angkasa. Sakit dong. Untung angkasa tidak bisa berdarah. Begitu sampai sana, pada ribet minta difoto. Sampai-sampai udah disuruh buru-buru sama Uwa Amin, aku belum kebagian, eh, ga ada yang mau gantian fotonya. Sampai aku bete. Tapi, akhirnya difotoin sama Mama sih. Yang susahnya tuh, ada satu Uwa yang ribet, belum difoto pas pake kacamata. Aku kan belum sama sekali. Kasian kan. Harusnya sih kasian. Haruskah aku minta-minta di jalanan Malaysia, sampai dikasi uang, lalu ditangkap polisi Malaysia, terus dikira TKW, dibalikin ke rumah majikan, baru kasihan? Terus sampai masuk TV di Indonesia, sebagai TKW yang berhasil kabur, karena dianggap TKW padahal bukan?

IMG_3946Ribet langsung foto-foto nih Mama, Aki, dan Uwa-Uwa (om atau tante dalam bahasa Sunda). Kalau dikasih option mau difoto pake kamera DSLR, kamera pocket, atau Blackberry, pasti pemenang mutlaknya itu Blackberry. Alasannya? Supaya bisa langsung tayang. Hadyu.

Setelah dari KLCC, kami geser pantat dan makan siang di Pavillion, daerah Bukit Bintang. Sesudahnya, kami jalan agak jauh, entah mau ke mana. Begitu sampai, ternyata kami ke stasiun monorail. Lalu, naik monorail dan turun di tempat awal kami berjalan. Cuma perjalanan ke satu stasiun doang. Satu menit juga kurang kali. Hahaha, yang penting naik monorail.

IMG_3949Bule lagi foto-foto, difoto.

IMG_3950Ibu-ibu lagi jalan nggak ingin aku foto, eh kefoto.

IMG_3954

IMG_3951Pahlawan pejuang mimpi-mimpi saya sejak TK, Doraemon.

IMG_3952Monorail.

IMG_3953H&M

IMG_3992Anaknya Teh Nadya, Omar & Salma. 

Omar ini suka main sama aku selama di sana. Hobi banget ngikutin dari belakang. Kalo aku lari, dia ngejar. Terus kalo Omar udah lari, susah berhentinya, jadi aku ditabraknya. Udah nabrak, dia ketawa sambil peluk-peluk. Coba aja ntar udah gede, udah bisa bawa mobil. Aku lari, dia bawa mobil. Gak direm. Hiii, ga mungkin lah ya. Pas duduk di mobil van, duduknya sebelahan sama aku. Omar ini pinter Bahasa Inggris. Kosa katanya udah banyak. Dia hafal nama buah-buahan, sayur-sayuran, bintang-bintang, dan planet. Selama mobil masih bergerak, Omar interogasi apa saja makanan kesukaanku. “Kamu suka lettuce ngga?”, “Kamu suka jackfruit ga? Itu loh, nangka. Aku suka banget jackfruit.”, “Kamu suka pomegranate nggak”. Aku aja sempat mikir dulu. Pomegranate iitu apaan ya, perasaan ada di iklan, TAPI IKLAN APAAAA? Tuh, nama iklannya aja ga inget. Apalagi pomegranate-nya. Kosa katanya yang banyak ini, kata Teh Nadya, Omar dapat dari nonton video di Youtube. WOW. Youtube sebagai sarana edukasi. Canggih sekali anak zaman sekarang. Dulu, aku belajar sumbernya dari…dari…komik Doraemon dan Conan gitu? Dari Majalah Bobo juga. Efek belajar dari komik, anak TK udah bisa pakai kata “kamuflase”, “asam sianida”, “pembunuhan berencana”, dan “baling-baling bambu”.

Hari keempat, ini hari jalan-jalan pakai mass transportation. Perjalanan hari ini khusus buat anak muda. Aku, Faiz, Teh Nadya, dan Mama. Kami, hari itu, naik KTM dan MRT. Tujuan utama jalan-jalan kami hari ini itu: H&M. Gara-gara aku penasaran, kemarin gak masuk sini. Cuma lewat saja. Tidak pakai permisi pula. Nah, hari itu, adalah hari bersejarah. Ngambil, ngambil, ngambil. Mama langsung nge-iya-in. Miracle! Aku bilang “Ma, di Indonesia belum ada ini. Kan, Dhila juga di Bandung jarang beli baju. Kuliah bajunya itu-itu aja”. Terus mama jawab, “Dhil, emang ada temen yang bilang karena baju Dhila itu-itu aja, Dhila ditegur terus ga boleh temenan sama mereka lagi? Gak kan?” Iya nggak sih, sampai sejauh ini belum ada yang bilang gitu. Tapi, ini antisipasi daripada hal yang kutakutkan ini tiba-tiba terjadi pada suatu hari di masa depan. Saat perputaran baju yang dipakai, semua orang udah hafal, bahkan enek, sampai ada yang muntah di depan aku. Gak mungkin juga sih. Kayaknya.

IMG_3983Teksi.

IMG_3982OMG, ini di dalam KTM.

IMG_3981OMFG, ini di stasiun KTM

Hari kelima, kami pulang. Ke bandara nyampenya pas-pasan udah boarding. Gak sempet ke Duty Free Shop. Tapi, aku nggak sedih. Soalnya, Papa yang baru nyampe Bandung sehari sebelum kami pulang, udah ngebawain oleh-oleh dari Duty Free Shop Qatar. Beli cokelat, seperti yang biasa Papa bawa kalau ke Bandung. Namun kali ini, bawa cokelatnya sama kayak yang ada iklannya di TV kabel, terus sama kayak cokelat yang pernah aku makan di rumahnya Athira, enaaaak banget.

Sekian laporan perjalanan liburan ke luar negeri (padahal cuma beda satu zona waktu saja). Wassalamualaikum.

Oh, iya terakhir.

IMG_3948Faiz, model kaus singlet

IMG_8987Mama, sang fotografer ekstrim. Yang penting Menara Petronas keliatan dari bawah sampai atas!

Standard
Bebas, Berkelana

Buka Puasa Main Kartu

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah hari ini adalah hari ke-24 berpuasa. Sungguh waktu berpuasa tahun ini berjalan sangat cepat. Mungkin karena disibukkan oleh kegiatan sekolah, sanlat, dan tanding slopitch, lapar dan haus pun tidak terasa. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini tahunnya profesional!

Di bawah ini fotonya, tim WFB, Wartawan Foto Bandung, yang sebenernya ga ada di antara kami yang merupakan wartawan. Wartawannya malah main di tim Telkomsel. Tapi kami hebat loh, juara 3 di pool kami.

Setelah sekitar dua minggu yang lalu berbuka puasa bersama kelas IPA 6, kemarin saya berbuka puasa bersama Unggulan ’06. Unggulan ’06 adalah kelas saya waktu bersekolah di SD Negeri Banjarsari, yang tersaring dari SD 1 sampai SD 6, yang terdiri atas 35 murid.

Taunya, dari 35 murid, yang bisa dateng hanya 10 orang. Itupun seorang cuma dateng sebentar terus pergi lagi. Jadi yang dateng itu saya, Mentari Gita Pertiwi alias Toto, Rizka Dewi Zuleika alias Icrut atau Ica, Fadhilla Umami alias Dela, Tri Intani Puji Lestari alias Intan, Ilman Dzikri Ihsani alias Ilemano, Serian Trisetyo alias Buser, Hariadi Purnomo alias Buntelan Kentut *ups!* Adi, Irman Adhika, dan yang nongol sebentar terus pergi lagi, M. Ridwan Ramadhan.

***

Sore kala itu sangat panas sekali, saya memutuskan untuk tidak naik ojek ke SD, saya minta diantar mama naik mobil. Untungnya dago tidak terlalu macet, jadi perjalanan pun senang-senang saja.

Saat sampai tempat tujuan dedi dores mama, dengan diiringi doa restu mama, saya turun dari mobil dan menjelajahi sekolah untuk mencari makhluk yang saya sebut teman. Tidak perlu dicari ke semak-semak atau di balik pohon, ternyata mereka ada di tempat yang wajar. Ica dan Toto, itulah mereka. Mereka berjenis kelamin perempuan.

***

Saya klarifikasi, Toto itu bukan toilet yang berjenis kelamin perempuan. Toto itu manusia, sama seperti kita, kawan. Toto harus menerima nasib dipanggil sebagai Toto itu karena saya. Dulu saya mau manggil Mentari jadi Tamara atau Maejanah atau Blezinsky tuh kan kejauhan dari nama aslinya. Jadi ya udah, keep it simple and chic, Toto aja.

***

Setelah saya bertemu Ica dan Toto, kami bertiga masih harus bersusah payah, bersimbah darah, membuang sampah, untuk mencari Iltan, Ilman dan Intan. Dimanakah mereka berdua gerangan? Pelukismu agung, siapa gerangan?

Mereka ada di kelas 2 SD 3 rupanya. Saat kami, trio DhiCaToCu, Dhila Ica Toto Lucu, masuk ke dalam kelas tersebut, kami sangat terkejut! Untungnya tidak sampai pipis di celana, apalagi pipis di Toto. Kelasnya bagus banget! Beda banget saat jaman dulu kami bersekolah di sini. Kursi dan mejanya itu seorang satu. Nyaman banget. Waktu di reguler, sekelas bisa sampai enam puluh orang, duduk dempet-dempetan, panas dan keringatan, kalo ada yang ee di celana, wah udah itu sih menderita. Kalo kelas yang sekarang, di reguler aja cuma buat tiga puluh orang. Di kelasnya ada tiga kipas, di pinggir 2, yang besar 1 di tengah. Jadi 10 orang, 1 kipas kali ya kaidahnya. Lalu, ada dua dispenser! Satu dispenser disponsori Aqua, satu dispenser lagi bisa bikin air dingin dan panas! Wih udah paling asyik lah. Jangan-jangan saat tahun depan kami ke sini, di setiap kelas udah ada WC, terus tempat spa, dan rental PS lagi.

Kembali ke topik utama. Akhirnya kami berempat, DhiCaToCu dan Iltan, berkumpul. Ada desas desus bahwa Hariadi sudah sampai. Saya keluar dan menuju ke arah pintu teralis yang menghadap ke lapangan basket untuk mencari Adi. Siapa tahu ada di sana. Saya teriak, “HARIADIIIIIY!”. Tiba-tiba ada yang balas teriakan saya dari belakang, “APAA!”. Seketika saya menjerit “Kyaaaa!”. Rupanya dia sudah sampai di depan kelas, bukan berada di lapangan basket. Sampai basket, basah ketek, deh gara-gara kaget.

Serem ya.

Ibu Nurhayati, wali kelas kami di Unggulan, tidak dapat hadir di acara buka puasa kami. Jadi merchandise dan foto kelas yang harusnya diberi saat sore nanti, kami titipkan ke Mang Soma, Sang Penjaga Sekolah Berkumis Klimis. Kami sertakan pula secarik kertas yang berisi pesan dari kami, isinya:

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam lintah!

Seharusnya ibu datang ke acara buka puasa unggulan ’06, tetapi ibu tidak dapat datang. Menyedihkan.

Murid-muridmu yang terluka.”

Setelah menitipkan benda yang harusnya kami titipkan, kami menemui Serian yang ternyata sudah menanti kami di depan mesjid sekolah. Then, off we go!

Kami melangsungkan acara buka puasa ini di Makan-Makan. “Makan dimana?”, “Di Makan-Makan.”, “Wei maneh ngajak gelut ka urang? Dahar dimana?”, “Di Dahar-Dahar eh Makan-Makan.”. Hihihi *kesan seram*

Perhatikan foto di atas! Apakah dalam foto tersebut terdapat temannya si manis jembatan ancol yaitu si manis cigadung indah yang tak lain dan tak bukan adalah saya? Tidak ada. Saya bukannya lagi pipis di toilet atau pipis di pohon saat foto ini diambil. Tetapi sayalah orang yang mengambil foto ini dengan segala kemanisan hati saya.

Tahukah anda mengapa wajah-wajah di foto itu bersinar? Mungkin selain karena efek setelah berwudu, hal ini disebabkan ada lampu di atas mereka. Eh berarti bukan bersinar ya, memantulkan cahaya. Jadi mereka itu hanya bulan, yang dapat memantulkan cahaya, bukan matahari yang bersinar. Berhubung ada di antara kami yang bernama Mentari, nama lainnya matahari, ya sudah kita artikan saya sebagai provider handphone ya, bukan matahari. Soalnya kalau kata saya di foto itu mereka ibarat bulan, ya harus jadi bulan semua! Ga boleh ada yang jadi matahari, mentang-mentang namanya artinya matahari. Demikian.

Nah, di foto yang di atas, kami lagi sibuk main 24. Apakah permainan 24 itu gerangan? Jadi permainan ini mengharuskan kita berpikir, bagaimana caranya dari 4 kartu yang dibuka harus berjumlah 24. Caranya boleh dibagi, dikali, ditambah, dan dikurang. Ga boleh pake kalkulus ya. Kami sih mau pake kalkulus nanti aja kalo udah pada masuk ITB. Tahun pertama kan belajar kalkulus lagi. Eh tapi kalo aku sih kan nanti masuk SBM, jadi ga kebagian kalkulus. Jadi main 24-nya tetep pake kali, bagi, tambah, kurang aja deh.

Oh iya kembali ke peraturan permainan 24. Jadi jack, queen, dan king itu bernilai sepuluh. Kalau as itu bernilai 1. Sedangkan kartu lain ya sebagaimana angka yang tertera di kartu aja ya. Ga usah diganti-ganti ya, misalnya 2 diganti nilainya jadi 5, atau 5 diganti jadi 25. Percaya deh, nanti jadi ribet kalo diganti-ganti nanti ujung-ujungnya ga jadi main, malah berantem.

Ssst..tahukah anda? Sebenarnya saya males main 24 tuh. Abis ga gue banget gitu. Kalo aja namanya 25, ayo aja kalo main sampe malem takbiran atau lebaran juga. Eh jangan deng, kalo main sampe lebaran, bisa-bisa ga kebagian THR.

Biar mainnya tambah asyik, kami melibatkan uang juga loh! Gara-gara hal ini, Darsem sampe hampir dipancung di Arab Saudi! Ga deng. Uangnya buat bayar makanan dan minuman yang kami makan. Tapi foto di atas sensasional kan? Bisa aja tangan yang ada di foto tersebut dilacak dan diketahuilah bahwa tangan tersebut tangan temen saya. Jadi aja temen saya ditangkep soalnya dikira main judi. Untung bagian tubuh saya ga ada yang kefoto. Soalnya saya yang foto.

Nah nah nah saudara saudari sekalian, foto ini diambil saat kita mau bubar. Bukan buka bareng ya, tapi beneran bubar, pulang ke rumah masing-masing. Sayangnya, di foto ini ga ada Ridwan, abis dia sebentar banget datengnya, langsung pulang lagi. Dan sebelum pulang, dia melakukan hal yang sensasional dan menjurus ke arah menakutkan. Ridwan mengecup rambut Serian dengan mesra! Seketika itu pula hawa di sekitar meja kami berubah menjadi panas, atau dalam bahasa inggrisnya HOT!

Setelah selesai The Last Photoshoot, mirip-mirip The Last Supper gitu biar artistik namanya, saya langsung ngacir pulang. Serem banget udah malem sekitar jam sembilanan gitu. Saya naik angkot deket Taman Flexi, taman yang biasanya banyak anak geng dan yang paling menakutkannya itu, BANYAK BAN to the CI! Banci! Untungnya sih ga ada, aman-aman aja. Eh apa sebenernya ada ya, tapi ga keliatan? Semacam hantu banci gitu. Hantu banci kebanyakan matinya gara-gara mau nyuntik silikon ke hidung, eh kepeleset ke mata deh jadinya. Ih udah ah sadis banget!

Setelah naik angkot dan turun di simpang dago, saya melanjutkan perjalanan saya ke rumah dengan menggunakan ojek. Lalu sampailah saya di rumah jam setengah sepuluh malam dengan anggota badan yang utuh. Alhamdulillah.

Sekian cerita kehidupan saya kali ini, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Standard
Berkelana

Sudah Setahun Berlalu

Sekarang saya sudah mau naik kelas 11. Umur saya sudah bertambah jadi 16. Saya sudah berani tidur di kamar sendiri. Saya merasa sangat senang. Di kamar bisa nonton tv dengan channel yang aku mau, ga usah rebutan sama Faiz. Selama setahun ini, Spongebob Squarepants, Backyardigans, Chalkzone, dan Dora the Explorer, setia berbising-bising ria menemani gue mandi, karena sunyi itu not so me banget. Jadwal tayang yang jam 05.30 – 06.00 itu ganti-ganti filmnya, sedangkan jam 06.00-06.30 itu yang diputar Spongebob terus. Karena saya mandi dan pakai baju selama kurang lebih setengah jam, alhasil yang paling nempel ceritanya dan menyatu karakternya dengan diri saya itu ya Spongebob. Ketawa aku jadi mirip Spongebob, dan sulit sekali diubah. Saya sudah nyaman dengan cara Spongebob tertawa.

Kalau semester kemarin saya dapat ranking 2, pada semester ini saya kurang yakin dapat mempertahankan ranking itu, karena pada semester genap ini saya seringkali merasakan bahwa saya sedang dalam titik jenuh tertinggi, paling puncak, paling atas. Ada tugas bawaannya stres, pengen kapan-kapan aja dikerjainnya. Sabtu dan Minggu itu adalah hari kebebasan saya. Dalam dua hari itu saya giat menekuni hobi saya yaitu softball. Softball has already taken a part in my life.

Ini teman-teman baru saya dalam lingkungan persoftballan. Jabar, jabar, kahiji! Alhamdulillah aku terpilih masuk tim Jabar di Kejurnas Junior Softball-Baseball 2010. Terus juara ke-2 deh. Harusnya bisa jadi ke-1, andai saja ada tim yang tidak menghalalkan segala cara mengubah peraturan dan menjegal satu pemain yang harusnya bisa jadi pemain Jabar. Ya sudahlah. Allahu akbar!

Before the chaos

After the chaos (aaah aku terjatuh!)

Nah ini tentang event-event sama X-5.

Kemarin-kemarin ini aku pergi ke kebun binatang sama Annisa Dila Frida dan Nurul Indah Sofia. Waktu itu kita lagi nunggu hasil UKK, remed apa ngga. Karena di sekolah ga ada binatang, jadi kita ke kebun binatang. Kalo ke perpustakaan nanti malah ketemu bukunya Chairil Anwar yang ngaku-ngaku kalau dia itu binatang jalang. Kita kan pengennya liat binatang asli, yang kayak di buku biologi gitu.

Saat sampai di kebun binatang, tampaknya kedua temanku itu senang sekali, tampak girang, seperti kembali ke alam bebas, seperti kembali ke habitat mereka dulu. Aku pun ikut senang dan memaklumi ada satu diantara temanku itu sangat antusias bertemu siamang dan menirukan suara siamang. Mungkin dia lupa bagaimana cara dia berkomunikasi dengan kerabat jauhnya itu. Maklum, kalau di sekolah kita berbicara pakai bahasa Indonesia, kita juga harus berbicara yang sopan, tidak berteriak-teriak sepanjang waktu seperti siamang, apalagi ketika ujian, kita harus diam. Sekali saja berteriak-teriak seperti siamang, mang-mang satpam akan menghampirimu dan menyeretmu keluar dari bangku ujian saat itu juga.

“Hei, aku kangguru, bukan siamang.”

Terus tuh, yang menjadi sasaran kita setelah melihat-lihat penghuni kebun binatang dan bertemu siamang itu naik bebek yang dimodifikasi sedemikian rupa, punggungnya dibolongi, tubuhnya dicat, dipasangi pedal untuk kita goes, dan bisa didudukin oleh tiga anak SMA yang sudah dalam masa pubertas. Bebek itu pasrah saja kita naiki, kita cuma bayar tiga ribu rupiah seorang, untuk sekali putaran. Sayangnya, satu kali putaran tak cukup, kita sewa dia untuk dua putaran. Karena dia itu benda mati, dia pasrah saja kita naiki. Toh, kalo sudah kesal paling-paling dia retak dan akhirnya bocor, air masuk ke dalam dek, dan dia berhasil menenggelamkan kami bertiga, siswi SMA cantik jelita yang belum tahu ada pelajaran yang harus diremedial atau tidak.

“Wooohoo, naik bebek, bebek, bebek aiiiiir.”

Oh iya nih, saya mau cerita tentang Purwakarta. Nurul itu seneng banget udah ke Kebun Binatang, soalnya di Purwakarta kampung halamannya ga ada. Dan katanya juga, di Purwakarta itu cuma ada satu toserba. Jadi bayangkan betapa berdesakannya orang di dalam toserba untuk memenuhi seluruh orang Purwakarta. Di Purwakarta juga katanya itu ada sepanjang jalan dari ujung ke ujung jualan simping semua. Maklum simping itu makanan khas Purwakarta dan pasti banyak turis yang beli buat oleh-oleh. Saya tambahkan, Nurul adalah gadis makmur anak juragan simping! Hebat sekali. Merek simpingnya itu “RANURI” singkatan dari Ravi, Nurul, Rian, alias anak-anak dari bapak Iwan Hermawan (kalo tidak salah, berarti benar). Bisnis simping ini mampu memberi penghasilan kepada warga sekitar yang belum mempunyai pekerjaan dan akhirnya diajak bisnis simping. Banggalah saya menjadi teman anak juragan simping yang mampu memajukan taraf hidup warga sekitarnya.

Selesai dari kebun binatang, kita balik lagi ke sekolah. Foto-foto dulu, mengabadikan momen-momen terakhir. Nah ini dia wajah siswi-siswi X-5, tapi cuma sebagian. Eh itu ada siamang kefoto. Ga deng. Boong.

Chika ngeliat kemana tuh, perasaan kamera yang motoin cuma ada satu.

Besok-besoknya, ada acara nonton bareng gitu. Nonton The Karate Kid. Pas begitu aku dateng ke Ciwalk, di J.Co ada manekin hidup gitu, jadi aja saya foto. Kan aneh, jarang-jarang di Bandung ada, paling ada di Bali yang per 15 menit dibayar seratus ribu.

“Pro chiz, taste better” eh maksudnya “Cheese!”

Sepuluh lima, udah setahun nih ya ga kerasa. Udah kelas dua kita mencar deh. Mencar-mencar cari pacar. Naon atuh ey.

Standard
Berkelana

Menjenguk Kawan yang Sakit

Kawan-kawan, mari kita doakan kesembuhan bagi Ilman Dzikri Ihsani. Dan, voila! Sepertinya Ilman sudah segar saat kami, Luthfan Nur Dwianto, Fanny Anggita, Rasyida Noor, M. Ridha Anshari, Kenjana Maudi Aulia, Firda Fauzia Rakhman dan Rengganis Primadisa, menjenguknya kemarin. Ilman menderita penyakit Thypus Abdominalis.

Kami datang kesana membawa sekeranjang buah yang Luthfan dan saya beli di Total Buah Segar. Selain itu juga membawa manset hitam, tanpa renda. Oh iya, buah yang dibeli itu ada yang kalo dikombinasi bisa menjadi 37. Apelnya 3, salaknya 7.

Foto di bawah ini adalah foto Ilman Dzikri Ihsani, suspect Thypus Abdominalis, 15 th, yang ternyata sudah jauh lebih sehat dari yang kami sangka lagi tiduran selimutan di kamar dengan panas tinggi, muka ngosngosan. Dengan nikmat makan anggur ala raja minyak. Minyak zaitun. Minyak goreng.

Yang di bawah ini ceritanya terkulai lemas ala sinetron dalam adegan “ah dimana aku? kamu siapa?”. Kayak lagi shalat ya. Memang kami akui Ilman yang akun twitternya mink_lizard dan bernomor punggung 37 ini orangnya sangat religius. Semua tindakannya dilandasi syariah agama. Mungkin.

Sesudah ngobrol panjaaaang, ngabisin keripik, minum dan Tango, kami pun menyudahi kunjungan kami. Sepatu saya basah kehujanan, dan Luthfan sama Ibay ngasi taunya pas udah kuyup kuyup basah. Mereka juga baru sadar sih. Itu Kenna ngambil lengkeng terus dijadiin gelang. Ga deeng.

Abis dari rumah Ilman, Saya, Fanny, Firda, Ida, Kenna dan Ganis makan di Sushi Tei. Tapi ternyata rasa baby octopusnya kok sekarang jadi enak ya, kemaren-kemaren nyoba sih wueek ga enak.

***

Foto: Wooooy Luthfan ngadep mana tuh hiiii serem kamera dimana, ngadep kemana. Oh aku tau! Dia ngadep sana soalnya mau pamer jambul yang terlihat lebih indah dari samping.

Standard
Berkelana

Sehari Bersama Ricis

Saya tidak dalam mood untuk menulis. Biar foto ini yang bercerita. Saya ceritanya kapan-kapan aja. Saya hanya menuliskan keterangan-keterangan fotonya saja.

Foto: Di Kolam air hangat Cipaku Indah.

Foto: Ola mengaduh sambil mengambang.

Foto: Di Waroeng Steak di Setiabudhi.

Foto: Manusia bergelimpangan di dalam kamar saya. Padahal kamar saya bukan kamar jenazah.

Foto: Ola merampas Pocky dari kehidupan saya.

Foto: Alay mode on

Foto: Di Warung Lela

Foto: Lihatlah deretan gigi Adzanti Adenan yang begitu rapi. I envy her.

Foto: Di Rumah Avi Dhayita Widyastuti, bisa dipanggil Avi, jangan dipanggil Tuti.

Standard
Berkelana, Fakta

Kukira Sup Ayam Tauge, Ternyata Sup Ayam Kacang Merah

Judul di atas hanya merupakan perumpamaan saja. Karena setahu saya tak ada sup ayam tauge, ataupun sup ayam kacang merah. Saya suka sup ayam jamur.

Kemarin malam saya makan puff pastry di Pizza Hut yang supnya ayam jamur plus bombay. Saya tak suka bombay. Oh iya cheese burgernya Toni Jack’s itu pake bombay. Jadi bombaynya saya buang. Bukannya saya merendahkan derajat bawang bombay, karena fakta saja, bawang yang digunakan di tahu gejrot itu hanya bawang merah dan bawang putih saja, tak ada bawang bombay, tapi bawang bombay juga berguna kok. Bawang bombay juga disukai. Tapi bukan saya orangnya. Bukan saya yang menyimpan bagian hati saya yang kosong untuk bawang bombay. Mungkin tetangga saya, mungkin juga masyarakat India sana.

Kembali ke topik utama. Jadi perumpamaan di atas itu mencerminkan dua buah buku yang covernya bagai pinang di belah dua, juga bagai kambing yang tertimpa domba.

Pada tanggal 22 Desember 2009, bertepatan dengan hari Ibu, saya pergi ke Gramedia Merdeka yang lagi ada diskon besar-besaran akhir tahun hingga 80%. Saya kira semua buku, tapi ngga cuma yang di belakang doang. Saya beli Touch volume 22, Twilight: Catatan Sutradara, Drunken Monster, dan Chicken Soup or the Couple’s Soul. Terlihat ganjil, huh? Who’s my couple anyway?

Kalau kita lihat bentuk morfologis buku Chicken Soup dari semua edisi yang ada, mereka mempunyai persamaan. Sama-sama tebal, tingginya sama, warna cover yang soft dan tulisan chicken soup yang ditulis dengan font yang sama.

Ingat kan kemarin itu hari Ibu? Seharusnya saya menghadiahkan sesuatu untuk mama saya. Ya saya mau beli buku. Tapi buku itu berjudul Chicken Soup Persembahan untuk Ibu (kalau tidak salah), bukan Chicken Soup for the Couple’s Soul.

Saat memindai rak buku diskon yang berderet buku Chicken Soup, tiba-tiba ada telfon dari mama saya, disuruh cepat katanya, sudah ada di parkiran. Tanpa pikir panjang dan melihat apa judul yang sebenarnya saya ambil, saya langsung menuju kasir dan membayar buku yang telah menjadi KESALAHAN. Kukira sup ayam tauge, ternyata sup ayam kacang merah. Bukan salah bunda mengandung, tapi salah Bunda menelfon. Ga deng.

Foto: CAMKAN PADA DIRIMU! Kau adalah kesalahan. Kau tak seharusnya tersentuh olehku. Kau, ya kau, sudah menghabiskan uangku.

Oh iya, malamnya mama saya request, “Dhila, kalo mau beliin mama hadiah hari Ibu, beliin aja tempat pensil, setengah dari tempat pensil yang ini, pokoknya yang muat pensil, pulpen, penggaris, penghapus”.

Klik ini, maka anda akan tahu, seperti apa dan siapa orang yang saya sebut mama.

Hey, gigi saya sudah dipasang braces loh. Tapi tetap saja pola makan saya sama. Paling pas hari kedua tuh kerasa sakitnya banget banget jadi makan bubur. Mau dipost fotonya, tapi ntar ntar aja deh, belom difoto juga lagian.

Di sekolah saya ada cemilan makaroni yang sebungkus terisi kurang dari 25 biji (mungkin) yang harganya 500. Kemarin, di Pasar Palasari saya menemukan cemilan yang sama persis yang kalau dibeli seperempat ons nya hanya 7000.

Standard