Daya di Balik Riset Dayamaya

Kalau niatnya baik, nanti ketemunya dengan orang baik lagi,” kata seorang mentor saya yang gak mau terkenal. Awalnya saya gak percaya, masa iya?

Sampai akhirnya, saya dan teman saya yang artsy, Icaq, alami sendiri saat perjalanan riset ke Kepulauan Kei, Kulon Progo, dan Jepara. Dalam riset yang rencananya ingin dilakukan di sebanyak-banyaknya tempat di Indonesia ini, kami ingin mencari tahu bagaimana internet biasa digunakan dan bagaimana peluang penggunaan internet untuk menggerakkan perekonomian setempat.

Eh iya, Dayamaya itu apa? Untuk sekarang, kita anggap saja itu nama dari sebuah upaya dalam membuat manusia Indonesia bisa berdaya dan berkarya di dunia maya, dimana riset yang kami jalankan ini adalah salah satunya. Fokus risetnya pada anak mudanya.

***

Riset ini dimulai dengan pertanyaan sederhana: “jika seluruh Indonesia terhubung dengan internet, apa yang akan terjadi?

Faktanya, adopsi internet kita sudah baik. Pertumbuhan jumlah penggunanya cepat. Pertanyaannya, dipakenya untuk apa? Kuantitas kalau tidak diiringi dengan kualitas, bisa gawat ujungnya.

Rata-rata pemakaian internet di Indonesia itu 9 jam. Di negara Amerika dan Cina itu 6 jam. Kalau dibandingkan perkembangan teknologinya, Indonesia sih belum semaju mereka ya, sepengamatan saya. Berarti, yang harus diteliti itu 9 jamnya di internet dipakai buat apa. Buat ngerjain kerjaan atau karena ngga ada kerjaan?

Menjadi negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia dengan durasi penggunaan internet yang lama per harinya, Indonesia punya peluang besar untuk menjadi berdaya bersama-sama atau termakan tipu daya bersama-sama.

TERMAKAN TIPU DAYA BERSAMA-SAMA

Hate speech dan hoax adalah makanan bisa sewaktu-waktu yang tersaji di smartphone kita tanpa kita sadari. Ada yang langsung melahapnya, ada yang melepehnya, ada juga yang berinisiatif tinggi membagi-bagikannya ke kerabat dekat dan tidak dekat, serta grup kawan sejawat. Poin yang ketiga itu yang paling gawat.

Kalau dipikir-pikir lagi, hal itu terjadi mungkin bukan karena mereka ingin bikin ribut-ribut, tetapi bisa jadi karena mereka nggak tahu akibat dari perbuatannya atau nggak tahu kalau yang disebarin itu hoax. Makanya, harus ada yang kasih tahu.

Nah, ini kita baru ngomongin di ranah penggunaan internet yang paling dasar ya, yaitu berkomunikasi dan bertukar informasi. Kalau yang dasarnya aja belum kita kuasai betul, apakah kita bisa ngomongin penggunaan internet ke tahap yang lebih rumit seperti transaksi dan produktivitas? Supaya ga ada waktu buat terpapar atau nyebarin hoax gitu kan, huehehe.

Hmm, ya bisa-bisa aja, asal kita kenali kebutuhannya.

MENJADI BERDAYA BERSAMA-SAMA

Tak kenal, maka tak sayang.

Ketika kita memiliki misi untuk membuat seseorang menjadi berdaya dalam suatu bidang, berarti anggapannya kan seseorang itu tidak memiliki daya/tenaga dalam bidang tersebut, ya?

Tapi, apakah kamu yakin kalau orang itu tidak memiliki daya di bidang itu? Atau jangan-jangan memang dia tidak membutuhkan daya di bidang tersebut?

Pada bulan Maret kemarin, kami bertemu dengan seorang ibu petani kopi di Kulon Progo yang beberapa bulan lalu mendapatkan pelatihan internet untuk memasarkan produknya di e-commerce. “Kalau saya disuruh kerja (bertani kopi) itu saya mau kerja. Ditantang target berapa pun dalam satu hari, ayo aja. Tapi kalau ditantang buat ngotak-ngatik kayak gitu (website e-commerce, pemasaran online), saya nyerah. Hehehe,” ujar beliau pada kami. “Mending ini hapenya saya kasih kamu, terus kamu yang urus. Nanti kabarin aja saya harus siapin berapa,” tambahnya.

Rupanya, dalam kasusnya ibu tadi, beliau tidak membutuhkan pelatihan itu. Sudah ada banyak pembeli tetap yang menanti biji kopi beliau setiap bulannya. Bahkan, sering juga ada kunjungan mahasiswa dan wisatawan baik yang lokal maupun luar negeri untuk belajar tentang kopi di tempat beliau.

Nah, akan beda ceritanya kan kalau kita mau mengenal beliau lebih dari sekadar sebuah data dalam kategori “UMKM belum online”? Hanya dengan melihat data dan angka lalu langsung mengambil keputusan yang dipukul rata tanpa tahu cerita di baliknya itu ga ada bedanya dengan main tebak-tebakan.

Jika kita emang bikin kehidupan seseorang berubah menjadi lebih baik, ya kita harus tahu dulu kan, definisi “kehidupan yang lebih baik” yang ada di pikiran dia itu sama ngga dengan apa yang ada di pikiran kita.

Kebaikan itu ada karena sebuah kebutuhan. Kalau hal yang kita lakukan nyatanya gak dibutuhkan, berarti apa yang kita lakukan tergolong dalam kegiatan “cari perhatian”! Hahahaha.

Tak kenal, maka cari yang kenal.

Saat ingin meneliti dengan cakupan yang lebih besar, tentu saja semakin banyak pula aspek yang harus diteliti. Sementara, waktu dalam 1 hari ya segitu-gitu aja, 24 jam. Bagaimana agar dapat bergerak lebih cepat namun tetap dapat mengenali target riset kami secara tepat?

Apalagi, saya tergolong orang yang jarang pergi-pergi ke luar kota yang jauh-jauh. Paling Jakarta, Bandung, Cimahi. Bekasi dan Purwakarta masukin juga kali ya, kan selalu dilewatin kalau lagi ke Jakarta hehe. Ketemunya cuma sama yang ngomong “saya mah..”, “gue sih…” dan “aku tu…” Belum pernah yang “Beta…” dan “Sa…”

Makanya, akhir Desember lalu, kami memantapkan diri ingin memulai riset dari Indonesia bagian timur.

Terus, tapi kok… Bingung ya, harus dari mana. Susah kalau ke kota yang kami ngga kenal siapa-siapa. Mana harus PDKT dulu kan tuh. Masa baru kenal terus nanya, “eh kamu kalau internetan biasanya ngapain?” Kemungkinan besar orang yang kita tanyain bakalan jawab sekenanya dan formal-formal sesuai norma yang berlaku kalau ada kakak-kakak mahasiswa sebar kuesioner di kelas. Seperti, “Oke, kalau kujawab nanti dapet Beng-beng nggak kak?”

Beda halnya kalau udah ada yang kenal dengan target riset kami. Yang kami mau, suasananya risetnya tuh kayak main ke rumah temen. Bisa haha hihi dan minim basa basi.

Lalu, di tengah kebingungan dan di kala hampir memutuskan timurnya itu ke Jawa Timur aja, muncullah keajaiban.

Singkat cerita, ada Mas Aris yang mau menemani kami selama riset 11 hari dan mempertemukan kami dengan macam-macam manusia di… Kei, Kabupaten Maluku Tenggara! Wuhu, Indonesia timur! Lalu, ada Kaju, manusia asli Bulukumba (btw, ini instagramnya Explore Bulukumba itu bikinan Kaju loh!), Sulawesi Selatan, yang bersedia terbang dari Jayapura, Papua dan cuti dari kantornya untuk ikut dalam riset kami di Kei. Mereka berdua sangat berpengaruh dalam keberjalanan riset awal kami di Indonesia bagian timur.

Kemudian, Maret lalu, kami mulai melakukan riset di Indonesia bagian barat, tepatnya di Kulon Progo dan Jepara. Lagi-lagi, ada manusia baik yang mau menemani dan membantu riset kami selama di sana. Mereka adalah Mas Deli, Mba Mauren, dan Mas Deta, tiga manusia yang sepertinya sudah digariskan Tuhan untuk aktif berkomunitas dan menjelajah Indonesia. Mas Deli asli Sleman, Jogja. Mba Mauren dan Mas Deta, adalah sepasang suami istri yang berdomisili di Ungaran, Kabupaten Semarang.

Mereka yang membantu kami selama riset ini, kayaknya emang hobi membantu orang. Iya, hobi. Saya nggak ngerti lagi, mimpi apa bisa kenal dengan orang-orang seperti mereka. Mereka yang tak cuma bicara tentang bagaimana idealnya bangsa Indonesia, tetapi juga membuat aksi nyata di daerahnya.

***

Kalau niatnya baik, nanti ketemunya dengan orang baik lagi,” kata seorang mentor saya yang gak mau terkenal. Kayaknya, saya harus percaya.

Karena, hanya dengan kehadiran orang-orang baik yang kami temuilah, Dayamaya ada. Jadi, kita ke 34 provinsi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.