Dunia Maya, Kamu, dan Dirimu yang Lainnya

Aku, kamu, dia yang berkebun di atas gunung, dan mereka yang memancing ikan di laut punya kesempatan yang sama untuk menunjukkan diri pada siapapun, di bagian bumi manapun, saat kita punya akses pada dunia maya. Semua bisa dapat panggung, bahkan kucing sekalipun.

Di dunia maya, kamu bisa menjadi kamu. Atau juga bukan kamu. Gak ada yang benar-benar tahu siapa dirimu sebenarnya kecuali dari jejak yang kamu tinggalkan di sana. Kamu adalah perkataanmu dan semua konten postinganmu. Kamu didefinisikan dari bagaimana caramu bertukar informasi dan berkomunikasi dengan manusia lainnya di bumi.

Saya dapat dilihat menjadi orang yang sangat menyenangkan di dunia maya, walau saat kita bertemu, rupanya saya adalah bukan orang yang demikian. Orang tidak lihat bagaimana ekspresi muka saya, apakah tulus, sinis, ataukah sinis-sinis tapi manis. Semua diwakilkan dari apa yang mereka lihat di layar mereka saja. Semua tergantung dari apa yang saya sajikan hingga menggiring orang pada sebuah kesimpulan.

Benarkah demikian? Oke, mari kita bicara dari platform yang paling tinggi adopsinya di dunia maya, yaitu media sosial. Ada yang menggunakannya sebagai sarana mengekspresikan diri, melepaskan emosi, berbagi pandangan dan pengalaman, ngasih kode sama sang pujaan, atau ada juga yang seperti saya bikin lagu dan tarian tentang ikan. Gimana preferensi masing-masing. Kita tentu bisa ngepost sesuai perasaan hati, namun kita tidak dapat mengendalikan bagaimana akhirnya orang lain akan menanggapi.

Misalnya nih, saya kan rajin ngepost instastory (btw, faktanya, penduduk Indonesia adalah penggunanya yang paling aktif dan menyumbang konten paling banyak di sana loh). Menurut teman-teman yang mengikuti instastory saya, saya adalah kakak yang sangat sayang sama adiknya.

Tapi, saat kita bahas pandangan teman yang mengenal saya di Twitter, bisa beda lagi kesimpulannya. Saya bisa dilihat sebagai orang yang gemar membaca karena banyak dari tweet saya adalah kutipan dan pembahasan buku favorit saya. Wow, sebegitu mudahnya orang lain mendapat kesan yang berbeda tentang kita. Beda medsos, bisa beda juga kesan orang tentang kepribadian kita! 

Makanya, kalau kamu ngeceng seseorang dan kenalnya dari medsos, coba pastiin lagi. Kamu udah follow semua medsosnya dia belum? Paling penting, kalau di IG, kamu berhasil masuk daftar close friends-nya dia ngga? Waspadalah, waspadalah. Mungkin, dia bukanlah dia yang kamu kira.

Selanjutnya, mari bicara tentang medium paling sederhana untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang (atau segelintir orang) yang kamu tuju, yaitu aplikasi messaging, seperti WhatsApp, LINE, dan FB Messenger. Dalam menggunakan aplikasi komunikasi berbasis teks tersebut, pemilihan tanda baca, emoji, dan stiker dalam chat-mu besar andilnya dalam membantu orang lain mendapatkan gambaran dari ekspresi dan nada bicaramu. 

Sebagai contohnya, ini bagaimana saya mentranslasi bahasa dari chat yang saya terima:

  • Iya, gak apa-apa” → to the point
  • Iya, gak apa-apa.” → to the point, tegas (soalnya ada titiknya) 
  • Ya, gpp” → antara lagi buru-buru atau saya orang yang ngga penting buat dia
  • Iyaa, gapapaa” → ramah, santai
  • Iya…ga apa-apa…” → tertekan atau speechless sampai gak tau mau komen apa atau pasrah
  • Iya, ga papa ☺️” → hmm, bisa jadi dia baper atau malah kamu yang jadi baper
  • Iya, saya tidak apa-apa, namun ada baiknya jika kamu mempertimbangkan alternatif pilihan lainnya. Saya cuma mau memastikan memang itu yang terbaik untukmu”→ nah, ini adalah pedang bermata dua. Bisa jadi dia adalah orang yang sangat bijak atau bisa jadi ngomong dengan nada mengancam dan mata membelalak. Kalau kamu adalah tipe orang yang insecure, ada baiknya langsung kamu ajak dia video call atau temui dengan segera untuk memastikan apakah maksud yang sebenarnya

Eh, perlu diingat, yang di atas itu adalah menurut saya aja, loh. Mungkin saya tipe orang yang perasaannya terlalu dipake daripada logika. Bagaimana orang lain dan kamu mengartikannya tentu berbeda-beda. Beda kepala, beda budaya, beda kebiasaan, beda juga penarikan kesimpulannya. Sebagai contohnya, liat bagan yang kutemukan dari artikel di Harvard Business Review tentang perbedaan cara bernegosiasi di berbagai negara ini:

Selain itu, kalau berbicara tentang komunikasi, ada juga yang disebut budaya low context dan budaya high context. Budaya low context itu yang lebih terang-terangan, langsung pada inti pembicaraan dan esensinya. Dalam budaya high context, cara penyampaian pesan itu jadi salah satu yang harus dipertimbangkan. Jadinya bisa muter-muter dulu ngomongnya, ngga langsung ke sasaran. 

Menariknya, di Indonesia ini kita gak bisa langsung generalisasi kalau masyarakat kita itu lebih high context atau low context. Untuk kota yang berdekatan kayak Bandung dan Jakarta aja udah beda banget norma dalam cara komunikasinya. Eh ga usah jauh-jauh deh, antara Jakarta Selatan aja jelas bedanya dengan yang di Jakarta Utara, katanya orang-orang. Intinya, kamu harus peka dengan lawan bicaramu. Menyampaikan pesan secara padat dan jelas adalah sebuah keharusan di dunia yang pertukaran informasinya sangat cepat dan melimpah ini. Tetapi, bagaimana kamu menuliskan pesan itu juga bisa jadi sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.

Hal ini krusial, apalagi jika kamu bertukar pesan dengan orang yang belum pernah kamu temui. Tapi, kalau kamu sudah kenal dengan orangnya, mungkin jadinya lebih bisa kamu pahami atau (terpaksa) maklumi. Kalau kamu pengen belajar lebih lanjut tentang perbedaan budaya dan cara berkomunikasinya, nih kusaranin baca buku ini:

//www.instagram.com/embed.js

Selain itu, kalau lagi ngomongin tentang komunikasi, sepertinya harus bahas juga tentang situasi saat percakapan itu terjadi. Kalau di dunia nyata, dengan mudah kita dapat memosisikan diri terhadap tindakan yang dilakukan karena kita dapat membaca langsung keadaan di sekeliling kita. 

Misalnya, kamu lagi rapat kantor. Terus, ada yang berdebat hebat saat diskusi. Dengan membaca situasi, seperti memerhatikan raut wajah masing-masing anggota rapat, kamu dapat beradaptasi dan menentukan langkah selanjutnya yang kamu mau ambil, apakah lebih tepat untuk menengahi atau menanggapi. 

Nah, kalau situasi debat itu terjadi di dalam grup WhatsApp gimana? Lagi bahas sebuah keputusan dan di grup ramai saling bersahutan. Gimana caranya tahu mana yang nadanya meninggi dan siapa yang tersakiti? Seberapa peduli kamu untuk mengatur tata bahasa dan penyampaianmu saat hanya ada layar tak bernyawa di hadapanmu? 

Zaman sekarang kayanya banyak perang saudara terjadi gara-gara forwarded message berbau politik di grup keluarga kan ya tuh? “Lupa dengan hubungan kekerabatan, entah dia paman ataupun keponakan, kalau dia tak sependapat denganku, peduli setan, pendapatku harus kuperjuangkan!” 

Dalam sekali klik ‘enter’, pikirkan bahwa yang kamu pertanggungjawabkan tidak hanya pesan, tetapi juga perasaan. Ibarat ngirim paket lewat kurir, pastikan apa yang kamu kirim, yaitu pesanmu, itu sudah benar isinya sebelum dibungkus. Lalu, pastikan pengemasan paketmu—pemilihan kata, penggunaan tanda baca, dan emoji (kalau perlu)—telah dilakukan dengan baik sehingga paketmu sampai sesuai dengan keadaan semula. Itu semua dilakukan supaya tidak ada yang kurang, cacat, ataupun tercecer saat proses pengiriman—atau dalam artian, tidak ada kemungkinan buat pesanmu mendapat mispersepsi atau sulit dimengerti.

Kalau kita ngomongin tentang dunia maya dan bagaimana kita memosisikan diri di dalamnya, sebenernya mirip juga dengan dunia nyata sih. Bedanya, kamu gak berada di tempat yang sama dengan para manusia yang menjadi lawan interaksimu. Keberadaanmu diwakilkan oleh kontenmu.

Di dunia maya, 
kamu bisa menjadi kamu.
Atau juga bukan kamu.
Itu pilihanmu
dan tergantung pada
sebaik apa kamu
mengemas kontenmu.

***

Eh, eh, eh, eh! Saya dan temanku sedang mengerjakan proyek yang tidak rahasia nih, berhubungan dengan bagaimana membantu lebih banyak anak muda untuk dapat berdaya dengan dunia maya. Kita lagi bikin kitab yang fungsinya sebagai panduan pola pikir dan pengenalan budaya di dunia maya. 

Saat ini, kami sedang menyiapkan topik-topik pembahasannya, salah satunya seperti yang kamu baca barusan. Kalau kamu terpikir ada topik penting yang kamu rasa semua anak muda harus tau agar dapat menjadi netizen yang budiman, tolong sampaikan pada kami ya! Bisa lewat komen di bawah ini, atau ngobrol via dm di Instagram @dh25ila dan @icaqq

***

Dalam menyelesaikan tulisan ini, saya mau berterima kasih kepada:

  •  @icaqq dan @intaniaal yang telah memberikan masukan di tengah-tengah sesi update kehidupan kita sambil makan malam yang menghangatkan hati
  • @tjuandha atas masukannya yang sangat objektif dan memberikan pandangan baru bagi saya dalam menyempurnakan argumen dalam tulisan ini
  • Kamu yang bersedia membaca tulisan ini hingga akhir kalimat ini

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.