Tentang Nya’ah

Saya gak pernah kepikiran bakalan punya kedai. Tetapi Papa saya iya. Bahkan, dia sudah pernah punya beberapa tahun silam, namanya Kedai Kopi Mata Angin. Katanya, “nanti suatu saat Dhila yang pimpin, ya”. Namun, kedainya tutup saat baristanya dibajak kedai kopi tetangga. Saya kurang tahu cerita lengkapnya, Papa nggak pernah cerita.

Saat duduk di kelas 10 SMA dulu, saya bercita-cita jadi arsitek. Atau desainer grafis. Tapi kata Papa, “Dhila sih mana suka. Nanti gak bebas, diatur-atur klien. Mending jadi pengusaha.” Dalam kariernya, selain pernah buka kedai di samping pekerjaan utamanya di sebuah perusahaan minyak luar negeri, ia pernah mencoba usaha pertanian organik. Namun, kala itu orang-orang belum ngerti kerennya organik. Belum masanya. Jadinya, tidak berakhir ciamik.

Saya pun akhirnya mengambil kuliah manajemen di tempat yang Papa saya sarankan. Ambil konsentrasi di bidang Marketing. Keren aja gitu bisa bikin orang yang awalnya gak kepikiran mau beli jadi beli. Begitu lulus dan kerja di KIBAR, pekerjaan utamanya saya adalah menulis—meramu cerita, bikin orang jadi percaya. Saking senangnya menulis, rasanya saya mau jadi penulis aja selamanya. Saat Papa telfon dan mengingatkan saya untuk sambil mulai bikin bisnis, saya jawab, iya, nanti saja, kalau ada waktunya.

Awal tahun ini, saya kembali ke Bandung. Saya pikir, saya akan lebih berguna di sini untuk adik saya. Dia itu spesial, dengan autisme-nya. Setelah sibuk dengan kehidupan saya sendiri selama kuliah dan lanjut bekerja di Jakarta, sekarang saya mau jadi sosok manusia paling istimewa di kehidupan adik saya.

Lalu, mau kerja apa di Bandung? Entah, tak punya rencana. Saat bertanya pada Papa, ujarnya “mau ngapain pun, Papa dukung. Kuliah lagi, boleh. Kerja juga boleh. Mau bikin usaha? Papa siapin modalnya.”

Singkat cerita, selama beberapa bulan ini saya sibuk dengan beberapa hal. Ada proyek sama tim Marketing di almamater saya, jadi contact representative dari seorang creative advisor, dan sampai hampir mulai kuliah S2. Iya, hampir mulai kuliah, soalnya udah keterima, tinggal masuk kelas aja. Nah loh. Membingungkan ya? Maunya Dhila apa sih?

Tenang-tenang, kamu jangan marah dan sampai mau bakar-bakar, ya, apalagi bakar rokok. Jadi gini ceritanya. Saya tuh kepikiran pengen jadi dosen, makanya mau lanjut kuliah, sambil nanti ngerjain proyek-proyek kreatif lepasan gitu (makanya saya jadi contact representative, biar ngerti adab ngerjain proyek yeayey). Tetapi, rencana itu sepertinya mengalami perubahan dari zat tak kasat mata.

Suatu hari, pak satpam di almamater saya ngasih info kalau dia lihat teman seangkatan saya, Abdi namanya, lagi interview buat jadi dosen. Penasaran, akhirnya saya ajak teman saya itu ketemu karena ingin tau motifnya untuk terjun ke dunia akademisi. Dia itu satu SMA dengan saya dan rupanya juga satu klub taekwondo (saya cuma sabuk putih aja sih. Begitu disuruh sparring sama yang sabuk merah dan babak belur, saya langsung udahan hahaha), tapi baru kenal pas udah kuliah. Itu juga gak begitu dekat karena beda teman sepermainan. Saya ajak dia lari pagi (iya, ini teman lari pagi yang saya ceritain di postingan ini). Tiba-tiba, di penghujung obrolan, dia ngajakin bikin bisnis bareng di daerah Cisitu. Unik sekali bagaimana dunia ini berjalan. Saya dipertemukan dengan kesempatan yang sama kali tidak saya ekspektasikan!

20180518_161216

Saya pun akhirnya mulai cari tahu tentang keadaan lokasi bisnisnya ini. Fakta menariknya, sebagian besar penduduk di Cisitu itu didominasi oleh mahasiswa rantau. Rata-rata kuliahnya di ITB. Dengan banyaknya penduduk pintar yang ada di sini, seharusnya daerahnya makmur ngga sih? Tapi, rupanya nggak demikian. Ada yang kekurangan tetap kekurangan. Banyak juga yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Kesenjangan itu ada. Para pendatang sudah sibuk dengan kesibukan akademiknya hingga sulit ada waktu berkontribusi pada lingkungan mereka tinggal. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung itu mungkin jadi tak berlaku rasanya jika ada tumpukan tugas yang tak berujung. Atau mungkin ada juga yang ingin berkontribusi tapi gak tahu harus mulai dari mana karena nggak kenal siapa-siapa.

Berangkat dari fakta itu, setelah membandingkan berbagai rencana bisnis yang Abdi ajak saya untuk rintis bersama, kita pun sepakat untuk mulai dari bikin kedai terlebih dahulu. Budaya makan bareng itu dianggap sebagai ritual harian yang paling tokcer untuk saling membangun koneksi. Makanya, kita jadi pengen bikin kedai untuk menunjang kegiatan tukar pikiran antara mahasiswa. Lebih jauhnya lagi, kita mau bikin kedai ini jadi jembatan antara mahasiswa dan warga lokal.

Dengan asal jurusan dan daerah yang beragam, para mahasiswa rantau pasti punya perspektif yang bermacam-macam. Seru kalau mereka bisa saling diskusi. Kalau bisa sampai dibikin forum antara mahasiswa dan warga Cisitu, wih ujungnya bisa jadi aksi buat bikin inovasi tepat guna harusnya!

Terinspirasi dari salah satu falsafah Sunda “silih asih, silih asah, silih asuh”, kami namai kedainya: Nya’ah. Itu adalah kata Bahasa Sunda yang artinya adalah sayang. Aih. Uhuy. Menurut kami, rasa sayang itu yang bikin orang mau tergerak melakukan kebaikan-kebaikan bagi orang lain. Untuk rasa sayang itu dapat tumbuh, yang pertama harus dilakukan adalah? Kenalan! Tak kenal maka tak sayang kan. Harapannya, di Nya’ah ini banyak perkenalan yang berujung pada rasa sayang-sayangan, hingga akhirnya saling mau bantu satu sama lain.

Oh iya, untuk mewujudkan ide kedai ini, ada juga dua teman lain yang Abdi ajak untuk bergabung. Pertama, ada Emen sang Penyihir, salah satu pemilik Hellikopi. Semua yang kena sentuhan tangan Emen tuh pasti jadi menakjubkan, mulai dari bikin desain dan konstruksi bangunan kedainya, sampai meracik makanan dan minuman. Berpengalaman bisnis macam-macam juga, kecuali bisnis tuyul.

20180526_151452

20180629_093225
Lalu, ada Aul sang Pemecut. Sangat rapi, terorganisasi, teliti, dan mengayomi. Sangat melengkapi tiga orang lainnya yang pembawaannya kayak santai-santai anak pantai, deh, pokoknya.

20180913_193809

Karena merintis bisnis itu banyak PR-nya, kalau ditambah dengan kuliah yang sama banyak PR-nya, nanti hidup saya isinya cuma to-do list yang gak diceklis-ceklis. Harus bikin prioritas.

Untuk bikin prioritas, saya baca tanda-tanda dari semesta. Dari wangsit yang saya dapat, saya berkeyakinan untuk menunda dulu rencana kuliahnya. Pada tahun ini, sudah terlalu banyak tanda dari semesta bagi saya agar mulai membalas rasa nya’ah dari papa saya yang telah banyak berkorban untuk membiayai mimpi-mimpi saya dengan mewujudkan salah satu harapannya pada saya: punya kedai.

Selamat ulang tahun ke-57, Papa.

***

Nya’ah
Jl. Cisitu Lama No.54 A, Dago, Coblong, Jawa Barat
Peta: https://goo.gl/maps/mBzr4pn6in72
Instagram: @nya_ah

10 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.