Lulusan SMK Susah Dapat Kerja? Jadi, Salah Siapa?

Katanya, pengangguran terbuka itu didominasi oleh lulusan SMK. Padahal kan, targetnya, lulusan SMK itu begitu lulus langsung dapat kerja. Kenapa bisa gitu ya? Salahnya di mana? Ya, bisa darimana-mana. Bisa langsung tunjuk kepala, kalau mau. Atau bisa beresin sama-sama, kalau mau. Mana pun itu, boleh dicoba. Tapi kalau pinter, mending coba yang lebih jelas hasilnya.

Sekarang, kita coba yang cara tunjuk kepala ya. Siapa pun itu yang ditunjuk, dia yang harus beresin masalahnya.

“Ini salah anak SMK. Kalau ada kemauan kan pasti ada jalan. Kalau dia gak dapet kerja, ya salah dia gak berusaha!”

Saya lalu coba mengingat masa-masa SMP kelas 3. Untuk memilih jalur pendidikan selanjutnya, saya lihat orang-orang terdekat saya. Rata-rata pada masuk SMA daripada SMK. Dan milihnya IPA, bagus buat melatih logika katanya. Baiklah, saya ikut saja. Gak usah neko-neko. Mari main aman. Fokus belajar pada apapun yang diberikan. Pasti kepakai kok.

Tidak ada celah di pikiran saya untuk mempertanyakan ulang kenapa harus lanjut ke SMA. Karena itu baik, menurut orang-orang terdekat. Kalau ditanya habis lulus SMA mau ngapain, jawabannya, ya kuliah. Walau belum tahu mau kuliah apa. Gimana nanti saja. Beberapa temanku pun berpikir demikian. Jadi, sepertinya ini bukan masalah besar, pikir saya kala itu.

Pengalaman saya tadi bukan tidak mungkin terjadi pada mereka, manusia yang seumuran saya, yang lebih memilih SMK daripada SMA. Karena orang terdekat mereka adalah lulusan SMK, jadinya memilih melanjutkan ke sana, padahal belum tau tujuannya apa. Main aman saja.

Untuk pilih jurusan keahlian, bisa jadi dengan cara cup cup belalang kuncup karena mereka belum tahu apa yang dipelajari di dalamnya. Atau, kalau versi siswi SMK yang saya temui kemarin, dia pilih sekolah di SMK itu alasannya karena dekat dengan rumah. “Jangan yang jauh-jauh”, pesan orang tuanya. Nah, dalam memilih jurusan keahlian, yang penting jurusan yang gampang lulusnya dan bisa dapat ijazah dengan nilai baik karena sepertinya itu yang jadi penilaian perusahaan dalam memilih karyawan, pikirnya.

Jadi anak SMK itu berat. Dituntut harus lebih visioner dari anak SMA karena mereka diharapkan lebih dulu masuk ke dunia kerja. Untuk masuk dunia kerja itu masing-masingnya harus punya kemampuan, dan yang lebih berat lagi kemauan. Bukan hanya kemauan “mau kerja” ya, tapi, “mau inisiatif”, “mau belajar mandiri”, “mau bertanggung jawab”, dan mau-mau  yang lainnya, yang butuh kedewasaan dalam bersikap. Bukan “mau mau tapi malu”. Eis~

Eh tapi ya, jangan kejauhan ngomong tentang kemauan deh. Coba pikir spesies yang kayak saya, spesies yang gak tau maunya apa pada saat seumuran mereka. Gimana coba?

“Oke, kalau begitu, ini salah guru SMK-nya! Harusnya kan mereka yang mengarahkan. Apa yang diajarkan harusnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan perkembangan zaman!”

Nah, setelah saya membaca tulisan seorang guru di sebuah sekolah swasta ternama di Jakarta yang menulis artikel “Jangan Mau Menjadi Guru”, rasanya susah juga kalau menyalahkan guru. Soalnya, mau jadi guru saja sudah sulit, prosesnya berbelit-belit. Perlu sertifikasi macam-macam dan katanya itu ada pengaruhnya pada pendapatan. Kapan dong mereka ada waktu buat selalu tahu perkembangan kebutuhan di perusahaan? Untuk mengamankan kesejahteraan hidup mereka saja banyak pekerjaan rumahnya. Guru mau membantu anak muda penerus bangsa. Tapi untuk memastikan masa depan anak mereka sendiri saja masih banyak tanda tanyanya. Punya mimpi mencerdaskan kehidupan bangsa itu banyak tantangannya, rupanya.

Ini belum bicara tentang tantangan mereka di lapangan, ya. Faktanya, jumlah guru SMK yang digolongkan berkompeten itu minim. Memang yang dibilang kompeten itu seperti apa sih? Yang bisa ngajarin hal sesuai dengan kebutuhan industri? Ngajar kan ya sesuai kurikulum bukannya? Kurikulumnya sudah distandarkan oleh Dinas Pendidikan kan? Eh eh eh gimana sih jadinya, saya bingung.

Coba saya angkat contoh dari industri teknologi ya. India, salah satu negara yang paling maju ekosistem teknologinya di dunia saja, dibilang kalau 95% lulusan IT-nya itu gak memadai buat kebutuhan industri. Jreng!

“Berarti, ini sudah pasti salahnya pemerintah yang kurang koordinasi dengan industri saat ini! Masa kurikulumnya gak up to date sih? Habis itu harusnya dibikin juga pelatihan buat gurunya, jadi kemampuan gurunya juga up to date, kualitas pengajarannya semakin ntap.”

Memang, paling gampang itu menyalahkan mereka yang berada di pucuk pimpinan, ya. Semua yang amburadul, kasih ke mereka aja. Nanti juga diberesin. Kita yang rakyat kecil bisa apa. Kita mah nunggu mandat dari yang atas saja. Kalau taunya hasilnya gak sesuai, ya salah yang memberi mandat, kita kan cuma ngikutin aja. Iya gak?

Kalau kebanyakan setuju dengan apa yang saya tulis di paragraf sebelumnya, berarti grafik yang saya temukan dalam artikel yang membandingkan dan menjabarkan budaya kepemimpinan sebuah negara ini benar adanya. Kita sangat bergantung pada keputusan mereka yang berada di pucuk pimpinan.

Jika itu yang terjadi, upaya menyesuaikan kurikulum dengan standar industri, memberikan pelatihan pada guru, maupun menyiapkan Bursa Kerja Khusus bagi lulusan SMK tidak akan cukup menjawab permasalahan. Yang didapatkan siswa SMK dengan upaya itu tuh ibarat alat dan buku manual penggunaan alatnya. Tapi, mereka nggak tau alat itu mau dipakai untuk apa. Mereka nggak punya bayangan dunia kerja itu seperti apa dan perkembangannya ke arah mana. Jadinya, punya alat canggih pun gak berguna banyak kalau nggak ngerti harus ditingkatkan seperti apa. Oh iya, jangan lupakan juga fakta bahwa mereka butuh kemauan, yang saya sempat singgung di sebelumnya. Kalau punya alat canggih, tapi nggak mau makenya kan jadinya…jadi apa ya…

Sempat saya bertemu dengan beberapa anak SMK kelas tiga jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, dan saya ajak ngobrol. “Selepas sekolah, rencananya kerja di mana?” tanyaku. Ada yang bilang sedapetnya aja, yang penting masih di kota tempat dia tinggal. Tidak ada dia sebut nama perusahaan yang ingin dia incar. Seketemunya aja dari lowongan kerja yang dipajang di sekolahnya. Rincian pekerjaannya seperti apa, dia tidak peduli, yang penting kerja. Ada juga yang cerita kalau habis lulus mau lanjut kuliah. Jurusannya ada yang mau ambil Sastra Inggris, ada yang Akuntansi, ada yang Bisnis Manajemen. Di luar itu, saya menemukan ada yang curhat nih kalau dia jurusan Pariwisata, dan mau ambil kuliah Hukum setelah lulus. Wayolooo! Oke deh, kita gak usah bahas mereka yang berkeputusan ngambil jalur yang berbeda dengan apa yang dipelajari di SMK, itu kan haknya mereka. Lagipula, itu rasanya lebih baik daripada mereka yang belum tahu mau ngapain setelah kelulusan. Nah, yang harus bisa dipastikan selanjutnya adalah SMK dapat menarik calon siswa yang memang memiliki keinginan untuk ahli di jurusan yang dipelajari dan langsung cari kerja begitu lulus. Supaya fitrahnya SMK untuk mencetak lulusan siap kerja bisa dipenuhi.

Tapi eh tapi, gimana caranya ketemu mereka yang punya keinginan itu? Berkaca pada pengalaman pribadi pada usia itu, sulit rasanya untuk punya keinginan mendalami suatu hal kalau ngerasa belum sreg. Sreg, dalam versi saya, adalah sebuah titik dimana penjelasan berdasar fakta saja belum cukup meyakinkan, butuh perasaan untuk berperan di dalamnya. Eh, tapi ya, katanya, untuk ngambil keputusan tuh emang berdasarkan perasaan sih ujung-ujungnya.

Karena sulit membuat keputusan sendiri, akhirnya saya cari referensi untuk dijadikan sebagai inspirasi. Yep, cari mentor! Sosok inspiratif untuk dipelajari, lalu ikuti (dan modifikasi sesuai situasi hahay!). Inspiratif tuh bisa dari pemikirannya, aksinya, cara pemilihan keputusannya, cara berkomunikasi dan berelasi, macam-macam deh! Beruntungnya, saya dipertemukan dengan sosok-sosok hebat ini di berbagai kesempatan yang tak terduga—walau kalau urusan jodoh masih belum dipertemukan juga. Mereka tuh berpengaruh banyak dalam proses saya adaptasi dengan dunia kerja saat ini. Pertanyaannya, bagaimana dengan mereka yang gak punya kesempatan itu?

“Nah, di sini industri harus berperan. Kan mereka yang butuh karyawan, berarti mereka dong yang harus jadi inspirasi. Banyak anak SMK yang gak punya impian karena nggak kenal dengan industri yang akan dia hadapi.”

Bisa jadi, bisa jadi! Walau kenyataannya pasti jauh lebih enak ngambil talenta yang “udah jadi”. Apalagi kalau perusahaannya punya banyak uang. Tinggal bajak dari sawah yang sebelah.

Kalau perusahaannya ga punya uang, jadinya mempekerjakan mereka yang mengaku “punya semangat belajar tinggi” saat interview dan melatih mereka sebisanya. Walau gak jarang, begitu udah jadi jagoan, sang perusahaan pun ditinggalkan karena tawaran dari yang punya uang. Loyalitas bagai komoditas. Niatnya sang perusahaan mau investasi, eh karyawannya malah memberi apati.

Tapi, nggak sedikit juga karyawan yang tetap loyal pada perusahaannya. Saat dicari tahu alasannya, sebagian besar berujar karena nyaman dengan lingkungannya, dengan orang-orangnya. Sesulit apapun pekerjaannya bisa dilewati karena mereka yakin banyak teman yang mendukung di belakangnya. Suportif lah. Ini bisa kejadian, mungkin, karena pembawaan budaya dari pemimpinnya yang ditularkan pada karyawannya.

Kebayang susahnya jadi pihak industri? Gimana mau menerima karyawan baru sedangkan yang lamanya saja suka saling berseteru.

“Jadi…harus tunjuk siapa dong ini? Salah siapa lulusan SMK susah cari kerja?”

Entahlah mau tunjuk siapa. Terlalu besar masalahnya hingga semua orang bisa terbawa-bawa. Mungkin kamu yang sedang membaca ini juga ada andil dalam permasalahan ini. Bisa jadi.

Lalu, selanjutnya apa? Ya bergerak. Sebisanya. Bersama-sama.

Akhir pekan kemarin, saya berkesempatan buat lihat pelaksanaan pilot project dari program Kemenkominfo, yaitu SMK Coding, yang berupaya membantu pembekalan keahlian siswa SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak dengan menggandeng praktisi industri dan komunitas teknologi sebagai mentornya. Tentunya melibatkan pihak sekolah juga di dalamnya. Dua SMK yang saya datangi kemarin adalah SMK Negeri 4 Malang dan SMK Negeri 8 Malang. Wih, anak-anaknya pada antusias puool gitu belajar ngoding di hari Sabtu dan Minggu sementara ada opsi lain untuk jalan-jalan bergembira bersama teman.

 

This slideshow requires JavaScript.

Akhir kata, menurutku, keren lah ini kombinasi penggerak programnya! Karena permasalahan SMK pasti gak akan beres kalau cuma saling tunjuk tanpa adanya kolaborasi bersama. Saling berkontribusi sesuai porsinya tentu akan membuat semua hal menjadi lebih mudah. Gotong royong!

Dengan tumbuhnya program kolaboratif seperti SMK Coding, semoga komunikasi antar pihaknya terjalin baik, semakin mengenal satu-sama lain, saling melengkapi, dan dapat menyongsong masa depan bahagia bersama. Hahaha, berasa wejangan kaku dari seorang teman di hari pernikahan mantan gebetannya, ya? Tak apa, yang penting mengandung doa yang baik-baik di dalamnya.

Jadi, masih mau tunjuk kepala atau mulai beresin sama-sama? Mana pun itu, yang penting SMK, Bisa!


Terima kasih buat Mas Sonny dan Kang Helmi atas kesempatan yang diberikan buat saya dapat menyaksikan kegiatan SMK Coding dengan mata kepala saya sendiri (setahuku mata dan kepala punya teman belum bisa dipinjam sih).

Terima kasih banyak pula untuk temanku yang bersedia meninjau dan memberi masukan sebelum tulisan ini dinaikkan:

  • Emen, anak muda yang memilih langsung terjun ke dunia bisnis selepas lulus SMA, sekarang punya kedai kopi di daerah Gegerkalong, Bandung bernama Hellikopi. Jago bikin bangunan, bikin makanan dan minuman, pokoknya semua yang melibatkan racikan dengan tangan. Serba bisa!
  • Sofy Nito Amalia (yang dipanggil Kopi sama Faiz), seorang content writer di Bukalapak yang dulunya lulusan SMK di jurusan Teknik Komputer Jaringan, lalu kuliah ngambil jurusan Manajemen di Undip. Buat kamu anak SMK yang sedang mencari panutan, ini dia orangnya!
  • Afyan Cholil, adik angkatanku di SBM ITB, jurusan Kewirausahaan. Aktif berkegiatan sana-sini, kenalannya banyak banget lintas jurusan. Akan merintis bisnis di bidang teknologi. Mending segera kenalan sekarang deh sebelum orangnya melejit tinggi.

 

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.