Capai Akal Budi

Saya gak pernah suka olahraga lari. Apalagi yang di sirkuit. Bosan dan kerasa capeknya gitu. Tapi, jadinya di setiap helaan nafas berasa jadi jauh lebih dekat dengan Sang Pencipta karena seringkali terlintas pertanyaan “apakah Engkau akan memanggil hamba di putaran ketiga?”

Senegatif itu deh pikirannya. Padahal mah kalau sofbol rasanya seharian juga kuat. Nah, kalau disuruh lari tapi gak ada yang dikejar tuh rasanya…pengen ngejar orang yang nyuruh saya lari sih.

Namun, semuanya berubah pada sebulan terakhir ini. Saya melihat olahraga lari dari sisi yang berbeda. Gak cuma meningkatkan kebugaran jasmani, tapi juga meningkatkan akal budi. Dan semuanya gara-gara Pak Budi.

Pak Budi adalah satu dari sepuluh founder-nya Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), dulunya dosen di Planologi. Sekarang tergabungnya di kelompok dosen Marketing.

Sebagai mahasiswi yang pernah beberapa kali diajar beliau (karena saya ambil peminatannya Marketing) awal-awal tuh kaget gitu. Kenapa? Beliau tuh susah ditebak cara mikirnya, coy. Walau omongannya terdengar sederhana dan mudah dicerna, tapi maknanya tuh dalem. Haram hukumnya menerima mentah-mentah. Bahaya kalau sampai salah tafsir. Pokoknya, kalau mau berhadapan sama beliau, pastikan otakmu diisi dengan argumen yang berdasarkan fakta dan taruh keyakinan tinggi pada apa yang kamu pikirkan. Banyak-banyak riset. Banyak-banyak baca doa mohon pertolongan. Niscaya kamu akan aman di jalan raya.

Pak Budi ini gaya mengajarnya unik dan orangnya karismatik. Mata kuliahnya beliau buat anak-anak tingkat pertama S1 SBM ITB tuh salah satu, eh dua deng (sekarang namanya Performance Art dan Leadership Management Practice), yang menyisakan kenangan mendalam dan bisa dibahas lintas generasi, deh. Penuh dengan kolaborasi, kompetisi, dan tangisan dini hari. Penasaran? Coba tanya ke anak SBM, rata-rata dari mereka pasti meng-iya-kan.

Beliau juga seorang humoris yang energinya kayak nggak habis-habis. Eh, ralat sedikit, terkait humor tuh tergantung selera sih. Dari pengalaman saya sih, Pak Budi tuh orangnya gak bisa kalau gak bercandain balik. Contohnya ya, kemarin ini pernah iseng naro kertas di meja beliau, tulisannya “Dhila was here.” Pas besoknya ketemu, saya tanya “Pak! Udah baca surat dari Dhila beluuum?”

Beliau jawab dengan santai, “loh, belum liat jawabannya?”

IMG-20180223-WA0005Dan…ada dong! Tergeletak di atas meja, menghadap kursi tamu. Sungguh UX yang mengesankan.

Singkat cerita, sama seperti rasa penasaran saya pada orang-orang yang saya kagumi lainnya, saya ingin tahu apa yang bikin Pak Budi…jadi Pak Budi. Apa yang jadi pembeda? Apa hal yang beliau lakukan tapi gak banyak dilakukan oleh orang yang seprofesi dengan beliau?

Dimulailah pencarian rahasia untuk mencapai akalnya Pak Budi!

Dalam pencarian saya ini, saya membatasi observasi ke hal-hal yang bersifat rutinitas dan gak banyak faktor luarnya, yang berasal dari diri sendiri gitu. Awalnya, sempet mau coba cari tahu dari menggali dari kejadian di masa lalu. Tapi, jatuhnya bisa jadi gak relevan karena perbedaan zaman dan budaya. Intinya, ga bisa direplikasi persis sama deh kondisinya.

Lalu, suatu hari, saya menemukan fakta bahwa Pak Budi ini rutin hampir tiap hari olahraga di Sasana Olahraga Ganesha (Saraga) ITB sejak…20 tahun terakhir. Konsistensi macam apa ini?! Kalau seminggu sekali sih, ya itu banyak juga orang yang melakukan. Belum bisa ditetapkan jadi faktor pembeda. Kalau olahraganya tiap hari, dan udah dilakukan selama 20 tahun, mungkin ini yang harus saya coba. Mungkin ini rahasianya!

Dengan tekad yang lonjong, gak bulat, gara-gara tahu olahraganya setiap jam 6 pagi, saya mengabari beliau kalau saya juga mau ikutan rutin olahraga. Begitu dapet respon, “bentrok sama waktu tidur”. Wah, saya langsung panas dooong! Dhila juga bisa olahraga jam segituuuu! Setiap hari! Kayaknya!

Saya pun mulai membiasakan tidur lebih cepat supaya paginya kuat melek. Beres shalat subuh, minum air putih (kalau lagi gak puasa), caw deh! Nyampe sana, langsung stretching, kadang-kadang nguap dikit, dan mulailah lari. Kalau di sana ada Pak Budi, langsung saya buntuti. Begituuu terus setiap hari, kalau tidak ada rintangan yang menghampiri.

***

Gak terasa, saat menulis tulisan ini, sudah terhitung sebulan saya rutin ke Saraga. Di tengah-tengah keterengah-engahan, banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan dari rutinitas berlari di sirkuit—yang saya rasa berpengaruh banyak dalam membentuk pribadinya Pak Budi. Di bawah ini, akan saya ceritakan penemuan saya dari rutinitas yang…belum seumur jagung ini! Walau bisa jadi popcorn sih, tapi gak apa, ya:

1. Berlebihan bikin cepat udahan.

Di awal-awal saya lari, Pak Budi bilang kalau saya larinya kecepetan, jadi akan lebih cepet capek. “Bapak yang itu (sambil nunjuk), 20 keliling juga kuat,” ujarnya. Mendadak, otak saya menganalogikan lari dengan perjalanan kehidupan.

Ada yang bilang kalau hidup itu bagai lari maraton. Kalau kita ikutan maraton dan awal-awal langsung sprint, bisa-bisa keburu kehabisan nafas, lalu pingsan di jalan, dan, ya, gak akan sampai ke tujuan.

Sebagai anak muda dengan semangat yang bergelora, ditambah dengan teknologi yang bikin kerja dan menggali ilmu bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, seringkali saya lupa waktu dan lupa diri. Seharusnya ada batasan yang diberlakukan. Terlalu berlebihan itu ga baik, dan ini diiyakan oleh seorang teteh di Harvard Business Review, “In sum, the story of overwork is literally a story of diminishing returns: keep overworking, and you’ll progressively work more stupidly on tasks that are increasingly meaningless.”

Dalam konteks beribadah juga berlaku hal yang sama, loh. Dengar-dengar, mereka yang mengerjakan ibadah yang sedikit tapi terus-menerus itu lebih disukai Allah SWT daripada mereka yang banyak beribadah namun sesaat.

Jadinya, saya mencoba menghindari kondisi ‘berusaha mati-matian’ soalnya pe-er kalau nanti mati beneran. Fokuslah pada konsistensi agar hasilnya lebih berkelanjutan. Atur dinamikanya. Gitu sih kira-kira, ya. Saya baru mau coba juga sih ini, jadi gak mau terlalu sotoy, deh.

IMG_dio0z2Tebak, kaki Dhila yang mana?

2. Silaturahmi menggenapkan diri.

Nah, kalau yang saya perhatikan dari Pak Budi, waktu olahraganya beliau juga dimanfaatkan sekalian silaturahmi dengan teman-temannya. Jadi, mereka jalan kaki bareng gitu beberapa putaran Saraga. Belum cari tahu sih itu latar belakang temen-temennya apa. Kalau pada beda-beda, kan wow banget tuh, terpapar dengan pandangan beragam setiap harinya!

Kadang kan kesibukan kita tuh jadi penghalang untuk menjalin silaturahmi, ketemunya sama orang yang itu-itu aja dan obrolannya, ya, seputar to-do list yang mau dikerjakan. Dengan berlari di sirkuit, kemungkinan gak sengaja ketemu teman atau menambah kenalan baru untuk berolahraga sambil bertukar pikiran tuh lebih tinggi. Jadi, manfaatkan peluang ini sebisa mungkin! Faktanya, di dunia kerja, ada yang emang rutin olahraga dalam rangka membangun hubungan dengan rekan bisnis.

Tertarik mengimplementasikan poin ini, saya coba deh ajak temen saya yang baru diinterviu jadi dosen di SBM ITB buat lari pagi. Penasaran gitu kenapa dia pengen jadi dosen. Nah, awalnya tuh gak pernah ngobrol panjang gitu lah, acquaintance kalau kategori social relationship-nya di The Sims. Trek larinya dari McD Simpang Dago ke Balai Kota Bandung. Pas lari bareng, awalnya agak malu sih, ngos-ngosan gitu pas saya cerita-cerita. Susah men, ngatur nafas sambil lari dan harus mengeluarkan kata-kata. Tapi, karena akhirnya fokusnya untuk supaya ceritanya gak sambil ngos-ngosan, gak ada tuh kepikiran rasa canggung buat nanya-nanya banyak hal ke dia. Akhirnya, selepas olahraga pagi itu kayanya social relationship-nya naik tingkat deh ke good friend deh.

Kebetulan, kemarinan saya juga sempet nemu teman yang lama tak bersua pas di Saraga! Awalnya deg-degan mau nowelnya, takut dia lupa sama saya, apalagi ditambah dia riweuh sedang lari. Kalau taunya dia lupa, saya rencananya mau pura-pura lagi latihan jab tinju aja. Untungnya dia gak lupa. Jadinya kita ngobrol deh. Abis itu silaturahminya jadi serius, saya ikut dia belanja di Pasar Simpang Dago dan lanjut jalan kaki sampai ke kosannya. Kita ngobrolin pengalaman selama beberapa bulan ke belakang sampai rencana di masa depan. Sayang Tasa pokoknya!

20180416_071058Tasa lagi nanya harga dan saya lagi pegang melon. Alon-alon asal kelakon.

3. Rutinitas menuntaskan prioritas.

Ini adalah poin terpenting yang mau saya bahas. Saya itu orang yang cenderung cepat bosan. Bagi saya, lari di sirkuit tuh, ya, sebuah bentuk cobaan. Kalau larinya keliling kota, mau sejam nonstop pun saya bisa-bisa aja. Karena banyaknya hal yang bisa diliat, saya pun terdistraksi dari pikiran semacam: udah sejauh apa saya lari? Udah secapek apa badan saya seharusnya?

Dalam kehidupan sehari-hari juga begitu. Begitu ada kegiatan yang sama diulang-ulang, rasanya pengen hengkang. Padahal, buat membangun dan merealisasikan sesuatu, ya, butuh dedikasi yang gak bisa sekali-sekali doang. Dari rutinitas itu sebenernya kan ilmunya nambah, tapi karena keseringan dilakuin, rasanya tuh jadi kayak gak mencapai apa-apa. Mikirnya jadi “ya, udah pernah ngelakuin kok, bisa lah itu mah. Yuk, coba yang lain lagi, yuk.”

Lah, lu kata hidup kayak main PS atau Nintendo, Dhil? Kalo bosen tinggal ganti permainan?

Melihat Pak Budi yang adalah seorang dosen, berapa kali coba dia membicarakan materi yang serupa ke mahasiswanya? Emang gak bosen, ya?

He who has a “why” can bear any “how”. – Friedrich Nietzsche

Setelah dipikir-pikir dalam beberapa putaran sirkuit, saya akhirnya memaknai rutinitas sebagai sebuah alat. Nah, kita harus tahu ini alat mau dipakai untuk mencapai apa. Kalau teman saya, jangan terjun dan mengabdikan diri ke sebuah rutinitas yang kamu nggak tahu ujungnya apa karena yang kamu korbankan itu tidak terbeli, yaitu waktu.

Nah, kalau kamu kenal dengan Pak Budi, kamu akan melihat adalah sosok yang sangat berapi-api dan menghayati apa yang beliau kerjakan sehari-hari dalam profesinya, yaitu mengasah manusia. Rutinitasnya itu bukan untuk dirinya sendiri tetapi diabdikan untuk sesuatu yang lebih besar, kemajuan bangsa dari anak-anak mudanya!

Intinya, yang saya pelajari, jika kamu punya tujuan yang kuat apalagi berhubungan dengan kemaslahatan orang banyak (dulu pernah saya bahas juga), apapun halangannya, pasti gak jadi persoalan yang akan bikin kamu berhenti atau bosan dari rutinitasmu. Akan selalu ada dorongan bagi kamu untuk harus terus melakukan apa yang kamu lakukan. Jadi, kamu sudah tahu alasan di balik rutinitasmu, belum?

4. Jalan Menuju Badai Pikiran

Sekarang, kita balik sedikit ke topik Dhila males lari di sirkuit. Akhirnya saya tau tujuan saya, yang bikin saya gak akan bosen untuk lari di sirkuit. Saya akan memposisikan rutinitas lari ini bukan sebagai alat untuk mencapai kesehatan jasmani, melainkan sebagai sarana untuk membangun mental tabah, juga untuk melakukan kontemplasi tentang akal budi, supaya bisa menghasilkan lebih banyak tulisan seperti yang sedang kalian baca ini, hahaha. Beneran!

Jadi, ceritanya tuh, di saat-saat terpuruk, jalan kaki hampir tikusruk, saya tiba-tiba teringat tentang risetnya akang dan teteh di Stanford kalau jalan kaki tuh bikin lebih banyak dapet inspirasi dan ide cemerlang! Jadi, saya coba deh itu subuh-subuh bawa kertas, pulpen, dan mulai jalan kaki. Brainstorming dimulai!

20180416_053736

Sejam jalan sambil nulis, gak kerasa, tiba-tiba udah penuh itu kertas! Lapangannya juga mulai penuh sama orang. Jadi tipsnya, jangan kesiangan karena nanti keburu ramai dan susah bermanuver sambil menulis, tapi jangan kepagian juga soalnya tulisannya gak akan keliatan. Hahah tips macam apa ini. Maaf-maaf.

Saya kaget juga sih ini kertas kenapa bisa tiba-tiba penuh sama ide. Entah karena emang khasiat jalan kakinya atau terpengaruh sugesti yang kuat dari artikel yang saya baca. Mungkin kamu harus coba juga, lalu kita bahas dan bandingkan pengalaman brainstorming jalan kaki kita, deh!

***

Sekian dulu sih cerita penemuannya kali ini. Cerita tentang bercapai-capai lari di sirkuit (btw, capek itu kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia harusnya ditulis ‘capai’) untuk mencapai akalnya Pak Budi. Saya mungkin akan tulis hasil lainnya dari percobaan penerapan rutinitas lari di sirkuit ke diri saya ini di masa mendatang. Jadi, silakan nantikan hasilnya 20 tahun lagi!

IMG-20180223-WA0004

***

Atas terealisasikannya tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada: Ilman atas revisian dahsyatnya sehingga tulisan ini memiliki struktur yang dapat dinikmati orang banyak, Gilang sebagai rekan seprofesi yang memberi pandangan dari berbagai sisi, Abdi sebagai salah satu narasumber dan juga rekan pelari, Mas Krisna sebagai teman belajar yang telah menunjukkan bagian tulisan yang kurang didukung penjabaran yang memadai, Josh yang telah meminjamkan buku Stocism sehingga saya belajar banyak perspektif baru dalam menjalani kehidupan, Kaju sebagai sesama INFP yang telah meluangkan waktu untuk mereview walau internet di Papua sedang terkena gangguan, dan tentu saja Pak Budi yang membolehkan saya menaikkan tulisan ini.


Update: 27 April 2018

Oh iya, saya belum cerita ya olahraganya Pak Budi tuh apa. Jadi, beliau itu biasanya ngelakuin HIIT versi interval walking. Simpelnya, jalan kaki santai dan jalan kaki gak santai. Jadi beliau ada nandain patokan gitu kapan harus jalan cepeeeeet, terus biasa, terus cepeeeeeet lagi, terus biasa gitu. Katanya beliau, kalau di atas umur 40 bagusnya jalan cepet, jangan lari, bisa bahaya ke lutut. Tapi, kayanya buat Dhila juga bagusnya jalan cepet juga deh, biar jagain lututnya dari jauh-jauh hari gitu kan. #alasan

Kalau ke Saraga-nya itu kebetulan ketemu sama Pak Budi, saya biasanya nebeng ikutan interval walking-nya beliau gitu. Seru soalnya! Beneran pas jalan gak santai tuh rasanya kayak lagi jalan mau ke medan tawuran. Kapan-kapan sambil bawa gear motor dililit ke iket pinggang kali ya biar lebih menghayati. Tapi nanti dicegat satpam ITB deng, gak jadi. Terus, yang bikin menantang adalah karena merasa gak boleh kalah dengan stamina manusia yang sudah punya anak dan cucu. Begitu.

Pernah sekali waktu, baru beres jogging 10 keliling dan beberapa meter di depan itu ada Pak Budi. Pas mau nyapa, tiba-tiba beliau bilang, “yok, cepet!” Oh men, Dhila nyapa pas banget di patokan buat mulai jalan kaki gak santai. Untung saja Dhila masih diberi kemampuan untuk bertahan hidup dan mampu mengetik ceritanya di sini.

Pengen nyobain interval walking? Bisa dipake buat nurunin berat badan loh (walau ga seefektif olahraga yang lebih berat lainnya, ini boleh laa dicoba). Nih, ada yang nulis resepnya di sini.


Update: 28 April 2018

Perhatikan tiga screenshot jawaban Pak Budi di Quora-nya ini deh. Buatmu, apa yang paling menarik?

Screen Shot 2018-05-20 at 15.00.06.png

Screen Shot 2018-05-20 at 15.04.51.png

Screen Shot 2018-05-20 at 15.03.07.png

Buat Dhila sih bagian: An amateur of getting old (2004-present).

Penasaran kenapa nulis short bio-nya seperti itu, saya pikirkan beberapa macam alasan dan saya validasi pada beliau saat bertemu di Saraga. Dan ternyata, alasannya gak seribet yang saya kira.


Update: 18 Juli 2018

*Lagi jalan pagi di Saraga*

Dhila: “Kalau Pak Budi bisa milih tinggal dimanapun di dunia ini, paling pengen di mana, Paak?”

Pak Budi: “Hmmm, yang deket cucu saya. Yang paling kecil kali ya, masih bisa diunyel-unyel soalnya.”

Beberapa hari kemudian, terinspirasi dari Aki-ku (kakek) yang majang banyak foto di kamar tidurnya—mulai dari istrinya, anaknya, dan cucunya—kusiapkan sesuatu buat Pak Budi. Kurasa, meja beliau terlalu gersang, isinya kertas doang.

20180718_130457.jpgNemu di Facebook Pak Budi, captionnya “my next badass”. Oh iya, buat yang penasaran, fotonya di-print pakai Instax SP2.


Update: 16 Agustus 2018

Suatu hari, kugambar grafik yang menggambarkan tingkat kecanduan per harinya, makin mendekati akhir pekan, makin tinggi, sampai menembus batas! Gak disangka, beliau memodifikasi gambar saya itu…


Update: 27 Agustus 2018

Saya ikut Pak Budi makan siang di Kantin Paksi SBM. Lalu, ada seorang perempuan dari sekumpulan staf SBM yang sedang makan siang memanggil beliau, “Pak! Oreo lagi, Paak!”

“Hush, saya bukan Pak Oreo,” kata Pak Budi dengan santai sambil berjalan menuju stan soto ayam. Beliau memilih soto karena itu makanan yang paling cepat, dan beliau ngambil sendiri gitu ke dapurnya. Penuh inisiatif sekali, ya.

Setelah beres makan, beliau beli dua kotak Oreo Thins. Lalu, saat sedang menuju ke ruangan, beliau mampir ke ruangan Prodi Manajemen. Rupanya, itu ruangan dari staf yang memanggil beliau tadi.

“Nih!” sambil ia berikan dua kotak itu pada dua staf SBM, tapi bukan ke yang minta Oreo.

Lah? Lah? Tentu saja, suasana ruangan langsung kacau dengan gelak tawa.

“Lucu kan, saya ngasih Oreo ke dua temennya, padahal dia yang minta, tapi ga kebagian! Hahahaha” ujarnya padaku saat kukeheranan dengan kejadian itu.

Selalu unik memang cara Pak Budi bikin suasana jadi seru.


Update: 27 Agustus 2018

Seusai makan siang, sama seperti hari-hari lainnya, Pak Budi minum kopi. Sudah beberapa hari ke belakang, kopinya ditambahin Kahlua. Sepertinya enak.

Lalu, tiba-tiba ia meneguk banyak-banyak. Kutanya, “Pak, kok buru-buru banget minumnya, gak diawet-awet? Kalau keburu habis dan nanti kepingin lagi, gimana?”

“Nggak, ini udah cukup kok buat hari ini,” jawabnya. “Oh, harus sudah merasa cukup ya..” ujarku.

“Yaa, itu hal yang saya pelajari selama hidup ini, tahu kapan harus berhenti,” tambahnya.

 

5 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.