Hidup, Pola Pikir

Tentang Dendam

Saya muak jadi orang positif.

Awalnya, bermula dari banyaknya komentar orang, “Dhila tuh orangnya positif banget, ya!” Untuk komentar ini, saya gak bisa bilang engga karena di hasil Strengthsfinder saya salah satu top 5 strengthnya adalah “Positivity”. Teruji dan dapat divalidasi gitu berarti. Secara de jure dan de facto.

Saya jarang merasa terganggu karena melihat semua berjalan dengan baik-baik saja, kalau pun sesuatu yang buruk terjadi, ya, pasti ada hikmahnya. Untuk semua hal yang terjadi, saya berpikir, sebisa mungkin, tidak ada yang disesali karena berasal dari pilihan sendiri dan konsekuensinya sudah dipikirkan dari jauh-jauh hari.

Lama-lama, saya merasa ada yang salah dengan pola pikir positif ini. Rasa-rasanya jadi terlalu permisif.


Dendam/den·dam/ a berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dan sebagainya).

Semua yang punya dendam itu pasti ada rasa harga dirinya terobral, ya, gak sih? Karena dendam, ia jadi ingin berjuang untuk membuktikan diri dan mengubah keadaan. Misal, kamu ditikung temen. Sebisa mungkin, bakalan cari cara buat nikung balik, ngedrift kalau bisa, atau cari cara lain yang pokoknya bisa bikin kamu ngomong “in your face, pantai!” ke temen yang nikung kamu.

Sebagai orang yang berpikir positif, saya orangnya gak begitu sering nemu momen dendaman. Cenderung jarang merasa tertantang. Padahal, dengan dendam, apa yang kamu kerjakan pasti ditujukan untuk mendapatkan hasil yang lebih cepat untuk membalik situasi. Ibarat kalau kaki kamu keinjek sepatu hak tinggi! Kan rasanya kamu pengen cepet-cepet…cepet-cepet sembuh sih. Haha contohnya ga relevan.

Nah, sekarang mau cerita sedikit nih tentang pengalaman mendendam yang pernah saya lalui. Cerita ini tuh waktu saya jadi murid pindahan baru di kelas, pas SD kelas 2. Kala itu, keluarga saya pindah dari Jakarta ke Bandung.

Cerita bermula saat saya sebangku sama anak kecil rese. Dia tuh ngambil space meja saya padahal kan satu meja berdua, ya, harusnya dibagi 50:50 lah areanya. Terus, dia tuh geser-geser saya gitu, sampai susah nulis di buku karena kesempitan. Akhirnya, saya bilang dengan nada setengah membentak “sempit tahu!” Habis itu, karena kebetulan saya belum punya buku cetak jadi ikut nebeng liat ke dia, bukunya gak dia kasi liat lagi.

Akhirnya, saya yang anaknya malu kalau harus kenalan duluan ini, mau gak mau, harus kenalan sama temen lain, buat liat buku cetak supaya bisa ngerjain tugas. Pokoknya, harga diri saya sebagai anak kecil berlatar belakang kaum minoritas (baca: murid pindahan baru) merasa terusik.

Setelah saya cari tahu, si anak ini tuh anak pinter gitu. Nah, kan saya juga pinter tuh, cuma kryptonite-nya waktu itu tuh pelajaran bahasa Sunda aja. Bayangkan, bahasa Sunda yang saya kuasai cuma “mah”, “teh”, “atuh, dan contoh pengaplikasian ke kalimat yang saya bisa: “saya teh mau makan atuh, kamu mah gitu.” Sebagai orang yang pintar di Jakarta, saya juga mau jadi orang yang pintar juga di Bandung. Saya mau bikin kepintarannya saya terstandardisasi lintas daerah gitu. Apalagi saya tahu bahwa kepintaran lah yang dapat meningkatkan harkat dan martabat saya di mata teman saya yang menyebalkan ini.

Lalu, malam-malam penuh buku LKS (lembar kerja siswa) pun saya lalui. Mama pun turut membantu saya untuk menguasai bahasa Sunda, yang saya yakin bisa mengubah segalanya. To cut long story short, walaupun gak bikin dia nangis, tapi saya berhasil bikin dia tersenyum tipis. Mungkin karena bibirnya kecil sih, jadinya kelihatan tipis-tipis sinis. Dia menyelamati saya waktu di kelas 3 akhir, saat saya terpilih jadi 35 anak yang masuk ke kelas Unggulan (isinya anak-anak pintar semacam kelas akselerasi gitu, cuma belajarnya tetap 6 tahun). Pokoknya, dendam terbayar lunas.

Indah sekali kan akhir balas dendamnya! Gak pernah merugikan siapa-siapa, fokusnya untuk mengejar aktualisasi potensi yang kita punya. Lebih besar tujuannya dari sekadar lirik di lagu Halo-Halo Bandung “mari bung rebut kembali”. Kalau dulu fokusnya itu untuk membalas apa yang dia lakukan pada saya, sebenernya bisa aja saya ngotot-ngototan ambil space meja dengan cara dateng pagi terus langsung bikin barikade batas meja pake pensil atau biar lebih aman, tempelin upil sekalian di pensilnya. Tapi, ya saya bakalan sama rendahnya sama dia. Wong semua anak SD dulu tingginya sepantaran #eh.


Ini bukan tentang perebutan kembali. Karena saat suatu hal sudah kembali direbut, ya udah, perkara beres di sana, gak ada urusan lagi. Kembali ke keadaan semula saat musuhmu belum muncul di pelupuk mata, padahal sewatu-waktu ia bisa datang lagi dan melakukan hal yang sama. Nah, fokus lah untuk memikirkan pembalasan dendam ini sebagai, kasarnya, pembuktian bahwa yang lebih baik (dengan cara yang benar, wajib!) lah yang pantas dihargai. Aplikasikan prinsip ini kalau kamu ditikung dan mau nikung balik.

Saya yakin, ini bukan hal yang mudah untuk orang yang berpikir positif. Bukan hal yang mudah untuk orang yang sifatnya permisif. Tapi kalau bisa menggunakannya dengan baik, akhir dari balas dendam ini adalah hal yang masif.

Sekarang, saya sedang berjuang cari-cari hal yang bisa memicu dendam, nih. Mau ikut gerakan ini?

P.S. Risiko ditanggung sendiri.

Advertisements
Standard

3 thoughts on “Tentang Dendam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s