Pengalaman

Tugas Menulis di Sekolah

Waktu SMA dulu, di pelajaran bahasa Inggris, ada tugas untuk menulis tentang idola. Seketika itu banyak nama-nama dan peran bermunculan dalam otak saya, hm, harus nulis yang mana, ya? Lalu saya berpikir, siapa pun itu yang saya tulis dalam tugas ini harusnya adalah idola dari semua idola. Saya sebut ini idola-ception, walaupun saya belum pernah nonton Inception soalnya takut.

Selama setengah jam pelajaran saya berkontemplasi berat dengan kapasitas pengetahuan level anak SMA. Anggaplah saya tidak mencari pengetahuan lain dan menerima saja setiap suapan dari kurikulum yang ada, makanya saya bilang ada levelnya. Saya kilas balik semua pengetahuan yang sudah saya dapat, juga semua berita yang kerap kali muncul di TV dan headline di media massa. Tak tahu kesambet apa, akhirnya saya selesai menuliskan siapa idola saya dan segenap rasionalisasinya dalam bahasa inggris. Iya, dalam bahasa inggris, soalnya lagi pelajaran bahasa inggris.

Setelah itu, kami satu persatu maju ke depan kelas dan menceritakan siapa idola yang kami tulis. Saat giliran saya, dengan sepenuh keyakinan hati, sematang kue cubit green tea, “Presiden Republik Indonesia”. Sontak saja satu kelas menertawakan apa yang baru saja saya ucapkan. Oke.

Untunglah, saya punya guru yang mengerti konteks dari apa yang saya ceritakan dan berhasil mendiamkan satu ruangan. Beliau bilang, suatu bangsa akan maju dengan cepat bila rakyatnya meyakini visi dan mimpi yang sama dengan pemimpinnya.

Yang saya yakini kala itu, pemimpin harusnya seseorang yang bisa menjadi idola dari rakyatnya. Sosok yang tak hanya disegani, tetapi juga diikuti. Sayangnya, mungkin yang membuat teman-teman saya tertawa pada saat itu karena pemimpin negara baru sampai tahap bisa “dimaklumi”.

Tak kenal maka tak sayang, katanya. Dan saya memilih untuk tidak mengenal pemimpin negara dari media massa. Mungkin dibaliknya ada konspirasi besar yang ujungnya adalah dusta. Masa iya?

Waktu terbang… time flies. Haha iya, garing. Banyak nama-nama baru yang mengisi media massa di halaman pertama dan saya tidak kenal mereka itu siapa. Hingga akhirnya saya check in di Path dengan lokasi: Rumah Dinas Walikota Surabaya. Saat ini, yang mendiami rumah itu adalah Ibu Risma. Sosok yang pernah saya lihat di acara Mata Najwa saat sedang streaming di dunia maya.

Malam itu, teman-teman Kibar diundang untuk jamuan makan malam di sana setelah beberapa bulan ini bekerja sama untuk membuat Start Surabaya. Beruntunglah saya yang diajak sama teman-teman Kibar untuk ikut ke Surabaya. Dengan ini, Bu Risma tak sengaja mengundang teman dari teman Kibar, hahaha.

Kami menunggu kedatangan beliau di ruang tamu yang besar. Mas-mas yang kerja di sana datang dan menyuguhi kami teh manis panas. Oke, ini hal yang wajar. Tak lama, mas-masnya makin banyak dan bolak-balik membawa nampan dengan camilan beraneka ragam. Dari kue lapis legit yang legit, buah-buahan yang kayak di film-film mesir dan yunani kuno, sampai martabak manis dan asin yang…yang enak! Ini mulai nggak wajar..apa emang semua SOP yang ada di Rumah Dinas Walikota tuh mengharuskan mereka untuk menyajikan martabak dan semua camilan enak? Atau rumah dinas ini kerja sama dengan restoran padang terus pas pamit pulang kami dapat bill dengan list semua hal yang kami telan?! Tapi, rupanya nggak gitu sih, hahaha.

Akhirnya, Bu Risma datang. Beliau baru saja dari dokter, darah tingginya kambuh. Wajahnya pucat dan terlihat lemas. Sebelum dari dokter, beliau habis seharian di polda mengurusi masalah Air Asia. Pasti capek. Keliatan sih. Pasti kurang tidur. Keliatan sih.

Awalnya beneran deh, suasananya awkward. Bincang-bincang awkward. Masih pada malu buat nanya dan gak enak juga buat nanya. Bayangin, lagi capek berhari-hari ngurusin musibah, terus habis dari dokter juga, dan terus ketemu anak-anak ditanya-tanyain macem-macem. Kalau saya berada di posisi Bu Risma sih, saya mau pura-pura pingsan aja.

Namun, lama-kelamaan pembicaraan semakin menarik, apalagi buat Bu Risma. Tahu dari mana? Ya, tiba-tiba pas lagi cerita, Bu Rismanya berdiri, terus memperagakan kejadian yang terjadi dalam cerita itu! Lagi cerita apa sih sampai heboh gitu? Ini cerita beliau negur ada orang yang seenaknya berhenti dan parkir di pinggir jalan dan bikin macet, sementara polisi gak berbuat apa-apa. Di luar sedang hujan deras dan Bu Risma turun dari mobil, pake jas hujan, nyamperin mobil itu buat negur. Tak tahunya, orangnya malah negur balik. Dari ceritanya Bu Risma, saya tahu ini orang super nyolot. Rupanya dia gak liat siapa orang yang negur dia soalnya Bu Risma pake jas hujan gitu. Pas tudung kepalanya dibuka, seketika keadaan berbalik saudara-saudara! Kalau saya jadi orang itu sih, mending saya sulut diri sendiri pakai api, huahaha. Rupanya orang itu tuh TNI, makanya polisi gak berani negur. Di sini Bu Risma menegaskan, kalau emang seseorang itu salah, gak peduli latar belakangnya apa, ya, hukum harus tetap ditegakkan.

Lalu, beliau juga cerita pas lagi head-to-head sama FPI yang mau turun buat ngerazia tempat-tempat umum pas lagi bulan ramadhan. Saya aja yang diskusi tentang metodologi TA sama dosen bisa sampai mata berkaca-kaca, nah ini harus keras-kerasan sama bapak-bapak seseram Yakuza, terus akhirnya bikin mereka nurut dan gak turun ke jalan! Ini keren karena negurnya langsung dor, gak pake mediator, gak pake Satpol PP, atau lewat teve.

Nah, yang menarik lainnya, ada teori dari kuliah Ekonomika saya semester kemarin yang diterapkan langsung di kampung-kampung di Surabaya. Namanya, Comparative Advantage, cie banget kan masih inget. Jadi, di Surabaya ini sudah ada kampung-kampung yang fokus memproduksi satu komoditas saja, kayak ada namanya kampung kue dan kampung lontong. Dengan produksi terfokus, output yang dihasilkan bisa lebih termaksimalkan. Katanya, lontong-lontong dari kampung lontong itu setiap harinya disuplai ke puluhan restoran-restoran di Surabaya.

Pokoknya, perbincangan malam itu jadi tambah beragam. Mulai dari membahas tentang taman-taman di Surabaya (oh iya saya baru sadar sepanjang trotoar pemisah jalur semuanya ditanami rumput dan pohon, gak putus-putus! Jadi berasa tambah sejuk!), arena balap motor buat anak-anak biar mereka terwadahi dan gak kebut-kebutan di jalan raya (jalur balap motornya lurus doang gak ada kelok-kelok biar aman), sampai bahas pengemis dan juga bonek. Semua masalah Surabaya yang lagi mati-matian diberantas dan proyek keren yang lagi dikerjain itu dibahas!

Oh iya, bulan Oktober lalu di Mata Najwa ada liputan tentang Bu Risma yang cerita pernah kena razia karena isi mobilnya yang mencurigakan. Penasaran, saya minta buka bagasi mobil Bu Risma deh. Ternyata, berita yang saya tonton itu benar, beliau selalu membawa barang-barang yang berguna kalau nemu orang yang kesusahan. Kalau nemu orang yang gak mampu makan, ada beras. Kalau ada anak-anak yang lagi main di lapangan, ada bola. Terus ada juga sapu buat bersihin taman. Lengkap! Selain itu, beliau selalu membawa handy talky kemana-mana buat koordinasi langsung sama orang dinas kota dan juga iPad yang isinya saluran buat ke lebih dari 100 CCTV yang tersebar di seluruh Surabaya. Kalau ada kenapa-napa, bisa langsung tindak! Dan ada toa juga. Kalau ada yang salah, bisa langsung teriak! Wehehe.

IMG_7572

Kesannya habis ketemu Bu Risma itu, seru! Ini pertama kalinya ngobrol sama pemimpin suatu kota dan saya betul-betul terpukau. Kerjaan satu kota tuh banyaknya berlapis-lapis, tapi energinya gak habis-habis!

Cara memimpin perubahan bisa bermacam-macam. Cara Bu Risma adalah dengan kerja keras dan tegas. Ada juga yang memimpin perubahan dengan cara sering-sering berkomunikasi dengan rakyatnya melalui media sosial untuk menggalakkan semangat kolaborasi. Lalu, ada juga yang memimpin perubahan hanya di jam 9 pagi—5 sore saja.

Eh iya nih, masih agak nyambung sama paragraf sebelumnya, akhir-akhir ini, yang saya lihat, banyak berita bahagia tentang pemerintahan yang disiarkan di televisi. Dulu, saya alergi dengan berita yang berbau negatif, soalnya bikin bangsa tambah pesimis. Tetapi, saat sekarang terlihat banyak berita positif di televisi, saya tambah berhati-hati. Apakah ini hanya aspirin yang bisa menahan rasa sakit, sampai membuat saraf kita abai akan masalah yang sebenarnya masih mengakar, nyata, dan lupa diberantas? Namun, pada akhirnya, bandingkan saja langsung berita dengan keadaan yang ada di sekitar kita, ya gak? Selalu pertanyakan apa yang ditulis di media, pokoknya. Siapa tahu ada dusta di antara kita.

Oke, postingan kali ini sudah menjadi renungan panjang tentang sebuah tugas menulis di sekolah. Terjebak di dalamnya,  ada satu yang saya ingin lakukan jika waktu bisa diputar kembali (ceilah). Saya mau beli tipp-ex terbaik yang paling cepat kering di koperasi sekolah, pinjem pulpen teman yang bukan gel biar gak nembus di kertas, lalu menulis ulang subjek tugas saya menjadi “Bu Risma, Walikota Surabaya“.

IMG_7569“Bu Risma! Jangan lupa minum vitamin, ya!”

IMG_7540Bu Risma di tengah-tengah anak Kibar yang mau mengibarkan talenta-talenta anak muda Indonesia, nih.

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Tugas Menulis di Sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s