Uncategorized

Lebih Baik Tidak Dibaca, Ini Sumpah Serapah

Menuliskan emosi di tempat yang bisa dilihat semua orang itu memang bahaya. Sangat sangat bahaya sampai-sampai bisa membuat kamu akan malu sendiri dengan apa yang telah kamu tuliskan saat kamu sedang kesal. Karena malu telah menuliskan hal-hal yang buruk di masa lalu, di masa saat kamu sedang kesal, sampai-sampai membuat kamu kesal sendiri. Menyesal kenapa menuliskannya pada waktu itu.

Sekarang, saya ingin menulis hal yang akan membuat diri saya di masa yang akan datang agar malu terhadap diri saya sendiri pada saat saya menulis ini.

Saya sedang kesal. Sampai-sampai saya merobek gambar yang baru saya gambar untuk melampiaskan kekesalan saya. Rupanya, merobek gambar itu lebih baik daripada membuat sebuah gambar saat sedang kesal. Gambar saya buruk sekali. Enyah saja sana.

Saya sedang kesal. Saya pasti menyesal mengapa tidak memakai waktu saya untuk belajar statistika saja daripada menulis keluh kesah kekesalan saya ini. Sebenarnya bisa saja, tapi tidak mau. Saya ingin mengingatkan diri saya yang ada di masa depan nanti agar tidak berlaku seperti apa yang saya lakukan saat ini. Menulis catatan kekesalan yang bisa dibaca semua orang.

Saya sedang kesal. Sampai-sampai teman pun saya acuhkan. Apa yang akan kamu lakukan saat kamu di posisi mereka, Dhila? Jangan lagi anggap saya jadi teman. Mana enak sudah menyapa, lalu hanya dibalas kata “ya” disertai tatapan dingin, atau lebih parah lagi, tidak menatap sama sekali dan pergi berlalu. Buat apa bertegur sapa lagi dengan orang seperti itu? Tidak lagi-lagi.

Merenung. Ingin bilang kesal, tapi tidak tahu mau pada siapa. Kesal itu memalukan. Apalagi kalau tidak jelas alasannya. Apalagi jika kamu tahu alasannya tapi tak bisa mengutarakannya. Bisa-bisa jadi gila. Tapi Senin ujian Statistika. Tidak boleh jadi gila.

Saya bisa jadi kesal saat saya melihat seseorang bersumpah serapah di jejaring sosial. Apalagi kalau masalahnya itu bukan masalah yang seharusnya diketahui banyak orang dan bukan untuk hal yang penting untuk dikonsumsi orang lain. Apa pentingnya buat saya kalau saya tahu kamu lagi kesal? Kesal itu bisa menular. Bisa saja saya enyahkan kamu dari linimasa jejaring sosial saya. Semudah itu untuk tidak mencampuri masalah orang lain bukan? Jangan sampai terkontaminasi, itu saja. 

Lalu, mengapa saya bersikeras menulis tulisan ini saat saya sendiri pun kesal jika melihat orang lain menumpahkan emosinya di muka umum? Dasar manusia. Bisanya menyalahkan orang lain. Saya ingin menyalahkan diri saya sendiri saja kalau begitu. Saat saya membaca tulisan ini di masa depan.

Saya harus berhenti menulis tulisan ini sekarang. Saya masih mau hidup panjang.

 

Advertisements
Standard

One thought on “Lebih Baik Tidak Dibaca, Ini Sumpah Serapah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s