Fakta

Ekskursi, Bukan Eks-Kursi, Bekas Kursi: Part 3

IMG_5405

Jam pada saat itu masih menujukkan pukul sepuluh lebih 22 menit. Saya berjalan, berjalan, dan berjalan. Gorija berjalan, berjalan, dan menggelinding. Kami pun bertemu seorang ibu-ibu lagi. Ibu itu sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya, setelah membeli sabun krim di warung. Hanya dengan bertanya, “Mau ke mana, Bu?”, jawaban yang terkuak bisa lebih dari itu, malahan sampai membuka aib keluarganya, aib anaknya sendiri. “Mau pulang, Neng, mau nyuci abis beli sabun krim. Abisnya anak-anak teh main-main di bak mandi, kena Rinso, plek we tumpah. Mau beli Rinso, eh adanya sabun krim. HAFTY!” (kalimat barusan hasil dari serpihan-serpihan kecil ingatan saya, yang ditambahkan dengan sedikit bumbu agak terasa lebih mantap). Wih, Rinso yang tumplek ke bak itu sebenernya asik. Buat bubble bath bisa, tuh. Selesai bubble bath, tinggal disetrika deh pipinya sama Mama karena bandel banget numpahin Rinso. Setelah berjalan beriringan sejauh beberapa meter dari warung, yang harusnya memakan waktu enam puluh detik saja kalau jalannya datar dan diaspal, jadi memakan 2,5 kalinya karena nanjak, berbatu, dan licin. Pake sendal gunung baru, sih. Jadi licin gitu. Haha.

IMG_5430

Kiri, kanan, kulihat saja, tiba-tiba di suatu teras rumah ada ibu dan tiga anaknya di sana. Sang ibu sedang menggendong bayi, anak perempuan megangin kepala bayi, dan anak laki-lakinya sedang dorong sepeda roda tiga. Kepala bayinya mau diapain tuh? Gak mungkin mau ditarik terus ditaro di sadel sepeda roda tiga terus digelindingin kan? Well, saya tahu ini seram, tapi saya kan harus bersiap kalau-kalau ada kejadian seperti ini, supaya tidak kaget kalau hal ini benar-benar terjadi. Ternyata, ibu dan anak perempuan itu sedang mencari kutu di kepala anak bayi tersebut. Kutu rambut, ya. Kalau kutu buku, wih gak muat, keburu pejret kali. Pejret bahasa apaan tuh, woy! Biasalah orang Sunda suka bikin kosakata baru sendiri yang disesuaikan dengan situasi.

IMG_5315Kami sudah sampai di dekat rumah, tepatnya di warung dekat rumah. Di depan warung itu terdapat sawah yang tidak terlalu luas, kira-kira dua ratus meter persegi. Ada petani yang sedang beraktivitas di sawah tersebut. Dengan menggunakan alat yang bentuknya seperti garpu raksasa, dia menusuk tanah, membelah bumi dan lautan. Nggak deng. Dia menusuk tanah, zombi-zombi keluar dari dalam tanah itu dan mengejar kami dan mengigit paha kami. Nggak juga deng. Dia menusuk tanah, mengangkatnya beberapa puluh senti dari tanah, dan membalikkannya. Gitu aja terus, sampai semua tanah di sawah itu terjamah oleh si garpu raksasa. Kegiatan itu untuk menggemburkan tanah. Sebelum rajanya membajak sawah, yaitu kerbau, dikeluarkan, diginiin dulu, biar lebih kebolak-balik terombang-ambing.

Penasaran dong, mau nyoba dong. Kami pun mendekati pak petani yang usianya sekitar empat puluh tahunan itu. “Jangan nanti kotor lah, Nengโ€ฆ” Setelah beberapa menit dicoba dan dirayu, haha dirayu, akhirnya garpu raksasa itu berpindah tangan juga ke tangan kami. Gorija nyobain duluan. SLEP! Menusuk tanah. BLES! Diangkat tanahnya. Sama sawah-sawahnya ikut keangkat. Pak Taninya juga. Kalau saya, sudah kelempar ke dusun sebelah. Nggak deng. Gorija berhasil membalik satu tanah dengan sempurna.

Gorija nyobain beberapa kali. Sambil nunggu giliran nyoba, saya lari-lari kecil di dalam sawah. Bayangkan ya, adegan di film Avatar saat Jake Sully baru masuk ke dalam tubuh Na’vi-nya terus lari-lari ke luar, merasakan sensasi menginjak tanah dengan kaki telanjang. Cuma bedanya saya lari-lari di tanah yang kerendem air sebetis.

Lalu, ada anak-anak tourguide yang kemarin, ikutan nyemplung ke sawah. Untung mereka anak pribumi, kalau anak bule bisa aja tanahnya diambil dibulatkan terus dilempar-lemparin kayak berasa lagi main Snowball Fight. Mereka malu-malu pengen ikutan gitu deh. Yang paling suka saya gangguin itu namanya Dayat. Kenapa? Soalnya mukanya paling gampang dibedain, rambutnya juga. Ada poni khasnya. Jadi, nama dia lah yang saya paling hafal. Poninya itu personal branding Dayat yang paling berhasil deh.

Gak lama, ada Beni dan Kak Samir ngelewat sawah dan melihat kami. Oh iya, Kak Samir itu tutor lapangan kelompok kami, yang sekitar matanya hitam. Dikirain tuh karena kurang tidur. Ternyata pas besoknya ketemu, daerah sekitar matanya masih hitam juga. Kak Samir itu orang yang paling mudah ditemukan di desa soalnya mukanya bukan muka-muka lokal, muka arabian-arabian night.

Giliran aku disalip sama Beni. Sedih sih, tapi mau gimana lagi. Yang terjadi, terjadilah. Saya main pake cangkul dulu deh. Angkat, pacul! CROOOT! Air sawah dan tanah-tanahnya muncrat ke baju dan celana saya. Men! Saya lupa ada Hukum Newton ketiga tentang aksi-reaksi. Mau gimana lagi. Yang terjadi, terjadilah.

Setelah menunggu dan menunggu, tiba lah giliran saya untuk mencoba. Garpu raksasa pun diserahkan Gorija pada saya. Garpu raksasa itu kini penuh dengan rasa kepercayaan Gorija dan dibumbui sedikit kepercayaan dari Pak Petani bahwa saya bisa menusuk, mengangkat, dan membalikkan tanah tersebut. Ingin deh rasanya berteriak, “beri aku sepuluh garpu raksasa dan akan kugoncangkan seluruh sawah!” Belum apa-apa, udah ngelunjak. Itulah Dhila.

Hap! SLEP! Yes, berhasil ditusuk. Biar tambah dalem tusukannya, harus sambil diinjak juga garpunya. Yak, saya injak garpu raksasa itu dengan dua kaki. Tidak terjadi perubahan apa-apa. Gorija bantuin nginjek. Wuzz! Langsung masuk ke dalam tanah dan keluar-keluar udah di bumi bagian baliknya. Nggak deng, jangan marah ya, Gor. Saya pun akhirnya nginjek garpunya sambil lompat-lompat, supaya force-nya lebih gede. Harus banget pake kata “force” ya, Dhil? Kayak ga ada kata Indonesia lain buat namain “force” aja.

Dengan menggunakan konsep tuas pengungkit yang saya pelajari saat SMP, saya akhirnya berhasil mengangkat tanah dan membalikkannya! Sungguh perasaan yang bahagia dan lega. Ibaratnya abis nahan ee selama empat hari ekskursi dan begitu sampe rumah langsung ee, deh. Nggak ya, bukan saya yang nahan ee empat hari.

Udah puas mencoba, saya pindahtangankan lagi si garpu raksasa pada pemiliknya. Pak Tani harus bekerja lagi karena sekarang udah hampir tengah hari. Biasanya petani di desa ini selesai menggarap sawah setelah zuhur atau sekitar jam 12-an, jam 1-an. Kalau lebih dari itu, misalnya sampai jam 4, mereka menyebutnya dengan lembur.

IMG_5325

Kami pulang ke rumah. Siang itu saya merasa lelah sekali. Biasanya kalau saya mau tidur siang, jadwal tidur siangnya itu cuma memakan waktu 10 menit saja. Soalnya paling pas segitu, atau 20 menit deh. Kelamaan tidur siang tuh buat saya gak enak banget. Bangun malah jadi lemes, bukannya seger. Terus jadi enek juga. Namun kali ini beda. Saya tidur sampai 2 jam! Nahloh, kaget sendiri begitu bangun juga.

Turun ke lantai bawah, udah tersedia makanan dan teman-teman lagi makan. Sore ini, saya makan ayam goreng, nasi, dan kerupuk. Makanannya enak banget! Kerupuknya itu kerupuk putih yang berwarna di sekelilingnya. Ayam gorengnya katanya cuma dipakein tepung Sajiku. Sayangnya, obrolannya yang ga enak. Ada yang ngomongin kalau dia susah buang air besar di sini. Obrolan pun berputar di sekitar itu. Sampai-sampai ngebahas, “kalau orang meninggal berarti kotorannya harus dikeluarin dong? Dicongkel gitu?” Sementara itu, saya masih melahap ayam dan nasi saya dengan lahapnya. Obrolan ini benar-benar fakta.

Advertisements
Standard

6 thoughts on “Ekskursi, Bukan Eks-Kursi, Bekas Kursi: Part 3

    • Gorija itu pernah muncul di postingan ekskursi yang part 1, paliiiing bawah, lagi pake payung. Nanti Gorija fotonya bakalan muncul di postingan terakhir serial ekskursi! Hahahaha seriaaal gini disebutnya.

      Loh, tanda tangaan? Bohongan nih pasti, masa minta tanda tangan Dhila. Pak awi kemarin ini ngomong sih sebelum Dhila ketemu sama Kak Milka, katanya mau minta tanda tangan, tapi Dhila mikirnya Pak Awi bohongin Dhila. Tapi ini bercanda kan? Iya kan? Ini bukan kenyataan kaaan?

      Like

      • gorija ojek payung? ๐Ÿ˜ฎ
        hahaha, tadinya mau minta tanda tangan. tapi sekarang mau minta digambarin aja. *banyak maunya*
        oh jadi kemarin tuh kaget ya liat mukaku? aku nggak serem kan? *baru kali ini sih ‘kopdar’ secepat ini dari hasil blogwalk* kaget atau demam panggung? ๐Ÿ˜€

        Like

      • Gambaar? Mau digambarin apaa? Dhila sih gambarnya suka aneh-aneh gitu gak jelas.

        Iya kemarin itu lagi deg-degan banget mau tampil nyanyi, padahal dulu gak pernah nyanyi gitu terakhir nyanyi depan orang banyak pas SMP lagi tes nyanyi. Udah nyanyi harus sambil nari pula, kan female leading vocal jadi tokoh anak kecil pemberani. Ngelawan superman pengecut. Musikal-musikal gitu deh pokoknya.

        Nah terus ada pak awi lewat, dhila samperin soalnya iseng, terus eeeeh ada kak milka juga, jadi kaget, soalnya kemarinnya abis ngobrol sama pak awi, terus hari besoknya tiba-tiba ketemu. Jadi dobel deg-degan dan kaget, campur aduk sama iseng nyamperin.

        Like

  1. ntar ya, kapan gitu. pengen ngobrolin diksi kamu yang ‘ajaib’ dan memberi efek halusinasi hehehe. halah, ngapain deg-degan, kan aku mahasiswa itebe juga bukan tutor, dosen, dekan, apalagi rektor hahaha. hemmm ini blog kok ga ada info kontak pribadi ya. susah mah ini ngobrol di komen hahhahaha
    oh jadi kaya gitu ya wajah pucat pasi, baru tau ๐Ÿ˜€ *nyesel, mestinya aku ikutan nonton*

    Like

    • Ngobrool? Wiiii, Dhila kalo ngobrol suka ngelantur nih… Kak milka lagi kuliah S2? Atau S3 niih?
      Dhila ada email kok dh25ila@me.com
      Whatsapp adaa, LINE juga ada. Kalo foto di homepage paling atas kanan diklik, nyambung ke facebook.
      Iya niiih, harusnya nonton, kalo rapat tuh nggak asik~

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s