curhat

Postingan dalam Bis

Assalamualaikum.

Pagi ini, saya sedang melakukan perjalanan dalam mencari arti hidup saya ke ibukota. Nggak deng. Saya pergi ke Jakarta karena saya adalah salah satu panitia dokumentasi dari acara IEC. Kali ini yang saya dokumentasikan adalah acara Gala Dinner-nya, yang merupakan penutup dari serangkaian acara IEC yang sudah dilaksanakan sebelumnya, seperti IEC E-Camp, Grand Seminar, dan Expo.

Sebenernya pengalaman mendokumentasikan IEC yang sebelumnya saya ikuti, pas Grand Seminar itu agak pahit. Mengapa? Karena venuenya minim cahaya, emang harusnya seluruh pencahayaannya fokus di depan sih, kalau semuanya terang nanti kalo ada yang ketiduran keliatan dong? Gak deng. Apalagi kan venuenya itu Sabuga, kursinya berderet ke atas kan. Jelas banget kalau ada orang yang tidur, mulutnya nganga, matanya kebuka setengah. Apalagi kalo yang tidurnya melotot. Kalau beneran ada orang yang tidurnya melotot serem sih. Pas kemarin sih nggak ada. Atau nggak keliatan ya… kan venuenya minim cahaya.

Hei, emang kenapa sih, Dhil, kalau venuenya minim cahaya? Saya nggak punya lampu flash external yang saboy banget gitu. Punyanya flash yang udah nempel dari sejak kamera saya diturunkan dan ditakdirkan untuk saya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Lagipula, saya takut banget kalau ketahuan lagi foto orang. Pake flash kan silau banget tuh. Terus taunya pas selesai acara, lagi duduk di luar, terus disamperin orang, dimintain, “mana foto saya yang tadi, mbak? udah dicetak belum? Dua puluh ribu ya dua. Cetakin yang ukuran 12R, ya.” Disangkanya saya tukang foto langsung cetak yang suka datengin acara perpisahan anak SMA kali. Nah, kalau misalnya ngaku, “maaf, saya bukan tukang foto”, nanti dia malah bilang “eh kalo gitu bagi dong, nih saya punya flash disk, tapi maaf nih banyak virusnya. Tapi, gak ada virus flu burung kok tenang aja. hahaha.” Udah nyusahin, garing lagi! Lebih garing lagi karena obrolan khayalan ini saya tulis di postingan saya kali ini sih sebenernya. Maaf ya. Maaf karena saya minta maaf sekarang, bukan pas nanti saat Idulfitri. Kalau minta maafnya pas Idulfitri, nanti malah… udah deh gak usah dibahas.

Sekarang saya baru bangun nih, abis tidur tadi. Ngantuk soalnya, makanya tidur. Kalau laper sih saya makan. Bis yang saya naiki saat ini lagi berhenti di peristirahatan. Ini dia saat-saat yang saya tunggu, setelah saya sedikit menyesal tadi pagi. Saya gak langsung mundurin senderan jok duduk. Tegak banget, men, 90 derajat kali. Keburu diisi deh kursi belakang saya. Mau dimundurin pas orangnya udah duduk kan gak enak. Apalagi kalau orangnya berukuran tubuh agak besar. Dan ternyata orang yang duduk di belakang saya berukuran tubuh agak besar. Cewek pula. Salah-salah nanti saya dijambak lagi. Gak mau deh dijambak. Apalagi diceburin ke jamban.

Ngomong-ngomong, orang yang saya kenal dalam bis ini ada enam. Evita Purnamasari, Yudha Wibisana, Anugrah Nindya Putra, Adhi Waluyo, Gideon Satria, dan Billy Christianto. Ya, saya cuma kenal anak SBM. Belum berani kenal-kenalan nih. Mau kenalan sama yang duduk di belakang saya nanti saya malah dijambak lagi, ketahuan mundurin senderan kursi.

Wah, orangnya udah balik lagi! *buru-buru scroll page ini ke atas, supaya gak ketauan, siapa tau dia ngintip*

Dadah!

20130414-101031 AM.jpg

Kiri-kanan: Putra, Uyo (Adhi Waluyo), Wibicil (Wibisana bibir kecil)

Advertisements
Standard

One thought on “Postingan dalam Bis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s