Fakta

Sabisaboy!

Assalamualaikum!

Pertama-tama saya ingin meminta maaf karena telah menjadi penulis blog yang kurang aktif. Sibuk soalnya. Wooo, keren gak tuh? Sibuk tuh.

Kali ini, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya di tanggal 19 Januari yang lalu. Menurut Daily Notebook saya yang bertuliskan “Do. Or do not. There is no try.” di covernya, seharusnya pada tanggal tersebut saya mengikuti rapat besar acara Road to Entrepreneur yang dimulai pukul 17.30. Namun, saya telat, dan telatnya telat banget. Soalnya harus ngurusin buku angkatan dulu, tugas kaderisasi dari KMSBM yang ditujukan untuk satu angkatan agar membuatnya bersama-sama. Berarti, telatnya saya ini demi kepentingan bersama. Alesan itu bisa datang dari mana saja, cuy, sama pula seperti halnya inspirasi.

Saya tiba di SBM sekitar pukul 19.00. Hebat ga, telat satu setengah jam! Muka mau ditaruh di mana? Kalau ditaruh di pantat, impossible, karena saya pasti akan mati kehabisan nafas, hidung kejepit celana dalam. Untungnya, begitu saya sampai, benar-benar sampai di pintu utama SBM atau dengan kata lain di depan gedung Kresna, Evita, Ogiv, dan lupa-dia-siapa, keluar dari SBM. “Ayo, Dhil, langsung aja ke travel” kata Evita. Hah, saya mau dibawa ke mana nih? S1 aja belum lulus. Bersin sambil melotot juga belum pernah. Dan ga akan pernah bisa sih.

Penasaran ga? Penasaran ga? Sebenarnya saya mau dibawa ke mana, hayo? Ayo, semua, nyanyi dulu lagu “Mau Dibawa Ke Mana” versi Marcell! Gak usah deng. Jadi, ternyata, saya mau dibawa ke Bekasi. Bukan mau darmawisata liat Bekasi kebanjiran air, ya. Mau nginep. Satu malam. Besoknya, ke BSD.

Kami tiba di shuttle travel Cipaganti sekitar pukul 19.30. Travel kami berangkat pukul 19.45. Tak lama kemudian, ada seseorang lagi yang datang menghampiri kami berdua. Kak Juandha, atau biasa saya panggil Kaju. Kenapa dipanggil kakak? Karena Kaju ini satu angkatan di atas kami. Kalau Kaju di bawah angkatan kami, nanti namanya ganti, jadi Deju. Enakan juga Gehu.

Selama perjalanan, sebagian besar waktu duduk di mobil travel saya habiskan dengan tidur. Kalau saya makan, tentu yang saya habiskan adalah makanan. Saya makan setelah travel berhenti di tempat peristirahatan. Saya beli croissant-nya Dunkin Donuts. Mantap. Tapi, semantap-mantapnya makanan yang saya makan, tidak ada yang bisa mengalahkan lezatnya Indomie. Yang notabene tidak pernah saya makan lagi dengan alasan saya lebih sayang dengan tubuh saya sendiri.

Ada kekecewaan yang cukup mendalam setibanya kami di Bekasi. Tidak ada air yang menggenang. Banjirnya ke mana? Bete ah, saya belum lihat. Padahal saya sudah membayangkan malam yang dramatis. Kami bertiga memanggul tas bawaan kami di atas pundak, lalu menyusuri jalanan Bekasi dengan perlahan karena harus waspada. Bisa saja ada ranjau. Eek, maksudnya. Atau bisa saja ular kobra yang mengira dirinya adalah ikan lele.

Kami tiba di perumahan Kemang Pratama, rumahnya Evita. Tak berlama-lama untuk terjaga. Esok adalah hari yang panjang!

Setelah mandi dan sarapan, serta menonton Spongebob, kami bertiga pergi ke BSD. Gak bertiga juga sih, ada adiknya Evita dan supir. Berarti, jumlah kami berlima. Untuk sampai di BSD, kami melewati tol lingkar luar sebab saat itu kami tidak dapat masuk ke dalam Jakarta yang sedang lumpuh akibat banjir. Kami memilih untuk tidak melewati tol lingkar pinggang karena ngapain juga gitu? Pertanyaan besarnya adalah, ngapain juga saya tulis kalimat sebelum ini?

Tidur. Bangun. Tidur. Tidur. Tidur. Sampai. Saya, Evita, dan Kaju diturunkan di Prasetiya Mulya. Ya, lomba kami diadakan di sana. Rey tidak ikutan turun. Dia mau ke Spider yang ada di sebuah mall di Jakarta (bilang aja lupa sih, Dhil, nama mallnya apa). Awalnya, saya kira Spider itu semacam perkumpulan pecinta Tobey Maguire, pemerannya Spiderman. Tapi, sepertinya gak mungkin. Kenapa? Karena Tobey Maguire sudah digantikan oleh Andrew Garfield. Hipotesis ini pun gugur. Tak tahunya, Spider ini adalah nama dari sebuah gym.

Eh, iya, nih. Sepertinya saya belum menyebutkan lomba apa yang saya ikuti. Alasan dari saya belum menyebutkan nama lombanya, sebab saya masih belum menangkap lomba apa yang sebenarnya kami ikuti! Lomba ini kami bertiga ikuti karena diajakin Evita. Evita diajakin temennya yang anak Prasmul, Difa. Difa yang menyambut kami setibanya kami di Prasmul. Gedung Prasmul yang di BSD ini bentuknya wow. Artistik, jon! Mulut saya sampai menganga padahal saya nggak lagi tidur di mobil yang melaju.

Seusai kami registrasi ulang, kami memutari area expo Prasmul. Dalam expo ini ada berbagai tenant yang berasal dari mahasiswa Prasmul yang menduduki semester tiga dan semester satu. Nama exponya adalah Eureca. Nah, nama lomba yang kami ikuti adalah Advertising Hunt. Intinya, kami akan secara acak mendapatkan sebuah tenant yang produknya harus kami buatkan poster iklan. Seru, kan? Namun, keseruan ini berakhir saat kami berada di dalam ruangan kelas, tempat kami nantinya mendesain dan mengerjakan iklan. Tim kami, yang bernama Gajah Bandoeng (gara-gara Evita) duduk di bagian belakang kelas. Ruangan kelasnya berkontur, kayak gedung bioskop. Jadi, kami bisa lihat siapa saja yang duduk di depan kami dengan jelas. Ada yang bawa kamera. Hm, biasa saja, kami juga bawa kamera. Wah, ring lensanya berwarna merah. Mahal tuh. Ada yang mulai buka aplikasi di laptop tuh. Oh, santai aja, lomba belum mulai, Kaju juga udah ngeluarin laptop kok. Loh, kok tim itu semua anggotanya udah mulai ngotak-ngatik laptop. Loh, kok tim yang di sana ada yang bawa layar putih buat background foto. Bawa tripod juga. Bawa buku desain juga. MUKANYA KOK PINTER-PINTER?

Sebelum briefing dimulai, Evita sedikit berbincang dengan Difa, yang ternyata adalah teman sebangkunya di SMA. Mereka berbincang tentang tenant mana nih yang asik buat dibeli. Kan ga asik kalo ada yang jualan keren-keren gitu gak beli apa-apa. Difa menyarankan sebuah tenant yang menjual makanan berat yang ciri khasnya adalah kepedasannya. Sapi yang ditumis dengan bumbu balado, dan ada level kepedasannya. Masih juga digemari ternyata kuliner yang menggunakan level untuk menentukan tingkat kepedasannya agar dapat menyasar berbagai konsumen yang memiliki selera pedas yang berbeda-beda. Pas banget sih, kalau makanan pedas yang ada level-levelnya ini biasanya saya pesan yang level 0.

Saat yang menegangkan tiba, saatnya mengundi tenant! Kami sudah membayangkan produk apa yang ingin kami buat iklannya. Semoga kebagian sepatu, atau apa pun yang berbau fashion. Evita kami percaya untuk mengambil undian. Taraaaa, kami dapat tenant makanan. Tepatnya tenant yang tadi diomongin sama Evita dan Difa. Tenant Sabo, Sapi Balado. Tamatlah riwayat kami. Masalahnya, fotografi di bidang makanan itu bukan perkara mudah. Pencahayaan adalah faktor yang penting, kata Kaju. Peralatan perang yang kami bawa saat itu hanya EOS 550D, lensa fix, lensa standar bawaan pas beli kamera, laptop Kaju, macbook Evita, modem, and that’s it. Gak ada latar-lataran, flash-flashan, gak ada ide. Pada saat itu.

Lomba Advertising Hunt ini akan berlangsung selama dua jam lima belas menit. Dari jam 11.15 sampai dengan jam 13.00. Begitu lomba dimulai, kami bergegas keluar ruangan, menuju tenant kami. Eh, Kaju ke toilet dulu deng. Lalu, kami berbincang dengan mbak-mbak Sabo. Mengorek semua hal tentang Sabo. Mulai dari proses pembuatan Sabo, target market Sabo, keunikan Sabo, dan berjuta hal lainnya yang tidak dapat dihitung seperti bintang yang bertaburan di semesta. Ada satu hal yang menarik perhatian Kaju. Sakit perut yang menyehatkan. Mungkin dapat memacu detoksifikasi gitu kali ya. Kali, ya.

IMG_9027“Foto cabenya, Dhil, siapa tau kita butuh!” ujar Evita dan Kaju dengan berapi-api.

Agak sulit bagi kami untuk menonjolkan foto produk Sabo ini. Soalnya, Sabo ini diletakkan dalam packaging China Box. Selain itu, peralatan yang kami bawa kurang memadai untuk dapat mendapatkan kesan artistiknya. Kaju akhirnya memutuskan untuk mengangkat cerita dalam iklan kami, soanya untuk mengangkat keartistikan, kelompok lain pasti banyak yang lebih mampu.

Konsep pertama yang Kaju dapatkan adalah toilet. Jadi, Kaju dapet ide ini dari perkataan mbak-mbak Sabo. Kalau makan Sabo terus sakit perut itu bukan sakit perut karena gak bersih atau gimana, tapi sakit perut yang menyehatkan.

cobaaaAsalnya mau dibuat kayak gini, kayaknya. Foto yang di atas ini sih, kemarin saya ngeditnya, iseng nyobain.

Kami ambillah berpuluh-puluh foto yang bertemakan toilet. Toilet ini dekat dengan ruangan lomba. Pertamanya, Kaju lari menuju toilet (kayak foto di atas). Terus, foto pintu toilet yang kayak mau ketutup gitu, mau ditambahin efek api-api gitu, karena saking pedasnya Sabo, orang yang lari ke toilet sakit perut sampe kebakar. Nah, pintu toilet depan toilet cowonya ini kurang berkesan kayak toilet. Jadilah kami masuk ke dalam toilet, dan pakai pintu toilet yang kalo dibuka itu dalemnya langsung kloset, bukan kumpulan toilet kayak pertama. Dan toiletnya, tolet cowok. Saya harus foto pintu toiletnya itu di antara kloset cowok yang nempel di dinding itu loh. Hiii. Kepikir ga, gimana kalo ada yang pipisnya gak tepat sasaran terus ke tembok-tembok gitu? Dan saya, sekali lagi, ada di antara dua kloset cowok yang nempel di dinding.

Merasa ide ini kurang begitu mantap, kita ganti. Ceritanya ada cowok lari (lagi) mirip foto yang di atas itu. Cuma yang ini larinya melayang. Dan rencananya, mau pake efek api-api (juga).

IMG_9094

Tapi, Kaju merasa belum puas. Akhirnya, kami brainstorming lagi. Bayangin ya, pas lagi brainstorming setengah panik, lalu ada beberapa tim, kembali masuk ke ruangan lomba. Kayak mereka udah dapet bahan buat diedit gitu loh. Ah, rasanya ingin seperti tidak dilahirkan ke dunia.

Saya melihat-lihat keadaan sekitar. Wah, ada hydrant. Boljug tuh. Boleh juga tuh. Kan saking pedesnya Sabo sampai harus minum dari hydrant. Atau mencet emergency button saking gak kuat sama pedasnya. Kali ini, Kaju gak mau jadi model. Lebih pengen jadi pengarah gaya. Mungkin karena merasa paling gaya kali ya. Saya lah jadi korbannya.

Disuruh pukul-pukul hydrant, tangan saya doang yang difoto. Biar ada efek bergetar gitu si hydrantnya. Sabonya ditaruh di atas hydrant, ditata sedemikian rupa. Lettucenya nongol dari kotaknya biar keliatan seger, usul Kaju.

Brang! Brang! Brang! Hydrant dipukul-pukul. Pas lagi foto-foto gini, tiba-tiba ada mas-mas Sabo, keluar dari toilet. Bayangkan apa yang dia pikirkan. Produk jualannya, di atas hydrant, dan hydrantnya dipukul-pukul. “Ini orang dari suku mana nih? Ada ya, sesajen ditaruh di atas hydrant? Berhalanya hydrant….hydrantnya dianiaya. Suku penganiaya berhala..”

IMG_9136TOTAL FAILURE woy muke lu, Dhil.

Ekspresi yang harus saya pasang itu ekspresi muka panik. Tapi, susah banget, jon! Ada yang kayak orang nangis, kayak kelilipan remote tv, dan ketawa bahagia. Sampai akhirnya, saya disuruh posenya sambil teriak gitu, biar ekspresinya keluar. “AAARGH! BRANGGG!!! BRAANGGG!” Berasa jadi model America’s Next Top Model deh pose sambil teriak, tapi versi wanita muslimah.

Merasa cukup dengan stock photo yang kami dapatkan. Kami bergegeas kembali ke ruang lomba dan mulai mengedit. Kaju mulai nyari-nyari gambar api buat jadi efek di gambar iklan kami. Ya, Kaju terobsesi dengan efek api. Evita mulai foto-foto packagingnya. Saya mulai makan Sabo. Eis, makan Sabo ini ada tujuannya! Bukannya gabut. Cari inspirasi buat tagline iklan kami.

Selama bekerja, Evita dan Kaju begitu serius sementara saya kelilipan cabe. Ini semua gara-gara saya garuk-garuk mata pake jari saya yang ternyata eh ternyata terkontaminasi Sabo. Gila, pedes banget mata gue! Menderita banget lah saat itu. Bilang mata kelilipan cabe, tapi ga ada yang ngewaro (ngegubris). Harus menahan penderitaan kelilipan cabe ini seorang diri.

Hal yang tidak diinginkan muncul. Laptop Kaju ngehang pas lagi nyobain nambah efek api. Diungsikanlah pengeditan foto ini ke macbook Evita. Pokoknya, akhirnya foto kami gak jadi pake efek api-api, soalnya laptop Kaju lumpuh.

SABO

Singkat cerita, iklan kami beres. Dan harus dipresentasikan ke juri. Jurinya itu dosen dari Marketing, ada dua.

Seusai presentasi selama 5 menit, menceritakan meaning dari iklan yang kami buat, juri pun melontarkan beberapa pertanyaan. Yang tak bisa kami jawab.

“Kenapa Sabonya ada di atas hydrant?” Jreng.

“Logikanya gini aja, kalau orang lagi kepedesan gitu, cari pertolongan, kan langsung lari aja cari bantuan, tapi ga sambil bawa-bawa Sabo-nya kan? Ceritanya Sabonya abis dimakan kan? Kok masih dibawa-bawa. Lettucenya juga seger gitu ada di packagingnya. Jadi bisa menimbulkan banyak persepsi kan?” Mati.

Keluar ruang presentasi, kami habis dibantai. Langsung pulang ke Bandung aja gitu? Satu hal yang patut disyukuri, kami tidak jadi menambahkan efek api. Bisa-bisa kami dibarbeque atau direndos buat dijadiin sambel balado sama para juri.

Kaju sampai kelihatannya kehilangan kesadaran. Nyanyi lagu Fix You-nya Coldplay, tapi lirik yang dinyanyikan cuma “When you’ve tried your best, but you don’t succeed.” Satu lagu Coldplay, nadanya lagu Fix You, tapi liriknya yang tadi aja.

Setelah shalat asar, kami menghibur diri kami sebentar dengan menonton performance Adera di panggung expo. Menjelang pengumuman lomba jam 16.00, kami sudah bersiap mau pulang. Tapi, kata Difa jangan pulang dulu. Menghargai Difa, kami menunda kepulangan kami. Jadinya, kami duduk di luar area panggung expo, di luar kerumunan. Maksudnya supaya kalau kalah itu tinggal pulang, gak usah permisi-permisi buat keluar dari kerumunan.

Pengumuman lomba Advertising Hunt ini paling pertama diumumkan. Untuk mendengar hasilnya, kami sudah pasrahkan telinga kami pada Tuhan Yang Maha Esa. Juara ketiga, sudah diumumkan. Lalu, pengumuman juara kedua. “Juara kedua ini berasal dari produk food and beverages!” Sontak saja jantung berdegup dengan kencang. Deg. Deg. Antara berpikir jangan-jangan itu kita dan aduh jangan panggil kita dong, nanti aja pas juara satu. GEER ABIS. Eh, tahunya bukan kami.Setelah juara ketiga dan kedua diumumkan, kok tiba-tiba ada sedikit keyakinan ya? GEER ABIS TINGKAT DUA. “Ya, juara pertama ini produknya SABI BANGET DEH”. NAHLOH. Mendengar kata “sabi” itu sangat cukup untuk membuat kita kegeeran tingkat dewa. Plis deh, Sabo dan Sabi itu bisa diplesetin banget. Tahu kan, kegemaran lelucon anak muda Indonesia itu main plesetan. Dari yang lucu sampai yang saking lucunya sampe bisa bikin gak ketawa.

Benar saja, “Selamat kepada tim Gajah Bandoeng dari SBM ITB!”

Asyik.

Kami menerobos kerumunan, “permisi, permisi”. Sebenernya sih pengen ngomong “awas dong, nih juara mau lewat nih”, tapi takut pas lagi megang hadiah tiba-tiba disamber petir. Ada nilai plusnya juga tadi duduk di luar kerumunan selain kalo kalah langsung pulang tanpa malu harus permisi-permisi, kalo menang harus permisi-permisi dan orang-orang aware kalo yang bilang permisi ini juara satu-nya. Menarik perhatian gitu kan. HAHA sampaaah.

IMG_9154

 

 

Alhamdulillah, hehe.

Wassalamualaikum.

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s