Ayam Petok

 

Pagi itu, aku melihat ayam-ayam. Mereka berkumpul bersama. Bukan dalam rangka arisan atau peringatan empat puluh hari mengenang kematian ayah dari sang ayam. Mereka berkumpul tanpa berucap “petok” satu kali pun.

***

Ayam. Ayam. Ayam. Ayam. Ayam. Ayam.

Enak sekali tampaknya untuk dimakan. Hanya tinggal potong kepalanya sambil ucapkan “Bismillah, Allahu Akbar”, keluarkan darahnya, cabuti bulunya, lalu bagilah ayam tersebut seperti ayam potong lain. Paha atas, paha bawah, sayap, dada, itulah bagian yang paling enak. Namun, aku tidak membawa golok, padahal aku sudah meninggalkan perasaan tega di rumah.

***

Ayam-ayam adem ayem berkumpul bersama koloninya. Berputar-putar, menuruti insting. Melarikan diri jika aku hampiri. Kadang, ayam mengikuti anaknya. Menjaga anaknya, supaya tidak dijadikan chicken wings rasa barbeque.

***

Mengapa ayam harus menjadi ayam? Mengapa ayam memiliki bulu, bukan rambut? Kalau saja rambut yang menutupi seluruh permukaan tubuhnya, bukan bulu, ia pasti bernama orangutan. Dilindungi. Tidak bisa dimakan. Ditemukan hidup bersama dalam hutan di Kalimantan.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.