Bebas

Cerita Dhila Sebelum Tidur

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Akhirnya saya ngeblog juga! Sekarang sudah lewat beberapa hari sejak hari Sabtu, 26 Mei 2012. Hari yang istimewa (kata Cherry Belle). Apa sih yang istimewa dari tersebut? Hari Sabtu kan hari tryout kemampuan IPA dan IPS, nah, hari Jumat itu hari tryout TPA dan kemampuan dasar.

Loh bukannya weekend tuh waktunya santai? Plis deh, bro.

Kata siapa? Tidak ada kata libur bagi anak yang baru lulus SMA dan belum diterima di universitas. Kecuali yang mau ngambil jurusan FKUA, Fakultas Kantor Urusan Agama, nikah, deh, maksudnya. Tinggal nyari pasangan hidup aja. (ngomong sih gampang!)

Hari-hari setelah ujian nasional itu belajarnya harus semakin rajin dan harusnya semangat tambah menggebu-gebu. Mengapa? Karena SNMPTN menunggu. Perguruan tinggi negeri itu—kata kebanyakan orang—tempat berkumpulnya para siswa terbaik bangsa. Jangan heran, kalau mau jadi satu dari para siswa terbaik itu ya harus melakukan usaha yang paling baik. Untuk menjadi yang terbaik, ga bisa cuma diomongin di mulut atau di-tweet aja. Butuh realisasi yaitu belajar!

Saya mau cerita sedikit nih.

Dulu, waktu SMP kelas 7, saya gak rajin-rajin amat belajarnya. Untuk lulus KKM aja udah alhamdulillah. Lama-lama, saya mulai sadar. Sadar kalau saya sudah telat start. Hasil rapot saya selama SMP, kalau dibikin grafik memang meningkat sih. Sayangnya, buat masuk SMA itu ga dilihat seberapa bagus atau jeleknya nilai rapot. Cuma ditentuin dari nilai UN. Kebayang ngga, udah dipoles-poles itu nilai rapot pake perjuangan dan pertumpahan darah, begitu NEM jelek, ya sudah. Lompat aja, sih, ke dalam kolam renang ukuran olimpiade, tapi yang ga ada airnya. Kalau rajin buka kamus idiom, kamu tau dong “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Pedih, men! Kayak dikelikitik pisau, terus dibanjur alkohol 70%.

Nah, itulah yang terjadi pada saya. Tidak masuk ke SMA favorit pilihan saya.

Mengingat masa lalu yang pahit, tentu saya tidak mau mengulangnya lagi. Saya harus rajin belajar dari garis awal start SMA. Mau tidak mau. Untuk masa depan yang cerah. Saya gak mau kehujanan lagi. Basah, nanti kena penyakit kepulauan tropis. Masuk angin.

Ternyata, baru saya ketahui kalau untuk masuk universitas itu ada jalur PMDK. Jadi, selama SMA rankingnya harus bagus. Kalau mau masuk ITB, jangan pernah turun dari 3 besar–kata Guru BK, bukan kata saya. Tipe orang kayak saya, tuh, kalau diiming-imingi hadiah, setinggi apapun bukit akan didaki, sedalam apapun samudra saya ga akan mau disuruh berenang. Intinya, begitu saya tahu saya bisa dapat kursi dengan belajar mati-matian (mati bohong-bohongan) supaya dapet rangking bagus, ya, itu yang akan saya lakukan.

Semester I dan II, saya masih dapat bernafas lega. Begitu rapot semester III dibagikan, saya merasa hidup tak berarti lagi (bahasa dilebih-lebihkan dengan takaran yang cukup, namun tak lebih dari dialog sinetron). Saya terdepak dari ranking II ke ranking VI. Memang, sih, kelas XII IPA 6 yang saya duduki itu banyak orang pinternya. Buktinya? Saat anak kelas lain ada yang kesurupan, kelas kami aman-aman saja. Saat anak kelas lain ada yang masuk angin, kami malah buang angin. Orang pintar minum tolak angin.

Tau-taunya, saat semester selanjutnya dimulai, ada perubahan pada sistem penerimaan mahasiswa perguruan tinggi. Untuk masuk ke perguruan tinggi yang saya puja, ITB, hanya ada dua jalur, yaitu SNMPTN Tulis dan SNMPTN Undangan.

Untungnya, jalur undangan ini tidak melihat ranking, tetapi kestabilan nilai. Kalau mau diterima yang harus konsisten bagus dan cenderung meningkat. Kala menyadari hal itu, saya merasa ada lampu sorot panggung yang menyilaukan mata tersorot pada saya, menandakan masih ada harapan di pilihan yang saya perjuangkan. Kesempatan itu masih ada, cuy.

Selama melalui masa SMA, ada satu hal yang sangat saya syukuri. Saya tidak salah pilih dalam berteman.

Teman sebangku saya kelas 10, namanya Hanina Liddini Hanifa. Dia sangat memberikan pengaruh terhadap gaya belajar saya. Selain itu, dia itu hidup saya. LOH? Ifa menyelamatkan saya dari kesendirian awal masuk SMA.

Tidak ada yang saya kenal di kelas itu. Saya ga berani kenalan duluan, kalo disamperin diajak kenalan, baru lah kenalan. Menyedihkan memang, cara saya berkenalan itu bagaikan ikan yang menunggu umpan pancingan, bukan sebagai pemancing yang akan memancing ikan. Tetapi, manusia pasti berevolusi. Saat kelas 11, akhirnya saya berani kenalan kalau saya ditarik teman saya untuk kenalan dengan teman baru.

Selain Ifa, ada juga Nurul Indah Sofia. Temanku yang satu ini hobinya itu beda dengan orang lain. Orang lain tiap minggu keluar-masuk mall, dia malah sibuk keluar-masuk rumah sakit. Biarpun demikian, semangat belajarnya tinggi. Pernah saya membayangkan, Nurul lagi belajar malam-malam di kosan—Nurul itu asli Purwakarta, ngekos di Bandung—terus tiba-tiba batuk dan pingsan tanpa ada seorangpun mengetahui. Dramatis sekali.

Lalu, saya kenal sama Annisa Dila Frida. Kami baru mulai akrab itu kira-kira awal semester 2 kali, ya. Lupa. Awal-awal aku kenal Dila, fakta yang saya tau itu hobinya membawa bekal setiap hari dan air minum segentong besar. Oh, iya, semua peralatan makan memakannya itu mereknya Tupperware. That’s that.

Ujung-ujungnya, Nurul, Dila, dan saya jadi partner belajar bareng di Dunkin’ Donuts. Kerjaan kami di sana, selain mengerjakan PR dan belajar untuk ulangan, kami juga makan donat. Kenapa? Karena kami di Dunkin’ Donuts. Kalo di bengkel, baru kami minum air aki.

Kelas 11, saya juga awalnya duduk sendirian. kasian banget, ya. Akhirnya, setelah beberapa hari, ada perempuan bernama Ayu Putri Maharesmi yang maha pintar menyambangi tempat duduk sebelah saya. Ayu ini, ramahnya ga ketulungan. Baru kenal beberapa hari aja, udah berasa kenal dari zaman manusia belum lahir dan dikumpulkan di Yaumil Makfuz.

Ayu juga rajinnya level 10, deh, malah bisa dibilang lebih tinggi levelnya daripada keripik setan yang pernah dimakan setan.

Dan itulah beberapa teman yang saya anggap paling berpengaruh dalam dunia belajar saya selama menuntut ilmu di SMA Negeri 1 Bandung.

Untuk mempersingkat cerita, ini dia.

Sabtu, 26 Mei 2012.

Pagi.

Datang ke Inten pagi-pagi. Kenapa pagi-pagi? Lihat dong kalimat sebelum paragraf ini.

Jam sembilan itu waktuya tryout kemampuan IPA. Dengan berbekal ingatan Running Man yang saya tonton kemarin malam, saya mulai mengerjakan soal demi soal. Kok makin sini, makin sedikit, ya, bulatan hitam di LJK-ku? Biarin, deh, kan SBM ITB itu masuknya IPS bukan IPA.

Udah gitu ngerjain kemampuan IPS. Loh, kok ekonominya cuma bisa tiga soal, ya? Saya kan mau masuk SBM (mulai panik). Tapi, kan, yang penting nilai keseluruhan, bukan per mata pelajaran. Santai ya, santai.

Siang.

Selesai try out, saya keliling-keliling Inten Aceh dulu. Ga biasanya. Biasanya, sih, langsung pergi ke Inten Gandapura buat meriksa hasil tryout sendiri, soalnya ga mau nunggu hasil diperiksa guru, lama.

Tapi, hari ini males, panas banget gitu di luar, mana bawa motor. Jadi langsung pulang.

Sampai depan gerbang rumah, ada Pak Satpam memberiku secarik surat, surat kelulusan. Saya bingung. Bukannya yang bertugas mengantarkan surat itu Pak Pos bukan Pak Satpam, ya? Oh, mungkin sekarang karena pengaruh era globalisasi. (nyambung ya?)

20120529-225550.jpg

20120529-225633.jpg

Wah, ternyata saya lulus SMA.

Tiduran terlentang tergeletak di karpet Doraemon berwarna pink yang ada di kamar. Melihat atap kamar, warnanya putih. Kalau saat mau tidur warna atapnya berubah jadi hitam. Dunia begitu indah ditambah lagi, saya sudah menamatkan jenjang kehidupan berlabel SMA. Namun…

JENG JENG!

Tiba-tiba inget perkataan Muhammad Arif Wicaksono saat try out tadi pagi.

“Eh, katanya pengumuman undangan jadinya hari ini loh jam 5.”

Mendadak sakit perut. Langsung liat internet, ngecek website SNMPTN. Taunya beneran jadi hari ini pengumumannya.

Bikin air panas. Mandi. Salat zuhur. Nulis nazar, terus ditempel di cermin. Ambil Qur’an, baca surat Al-Kahf. Kenapa surat yang itu? Soalnya suka muncul di notifikasi iPhone, “Have you read Al-Kahf today?”. Rencana saya itu namatin surat Al-Kahf dulu, baru nanti buka hasil pengumuman undangan.

20120529-225644.jpg

Tin-tin!

Wah, mama dan Faiz sudah sampai rumah. Berarti saya harus buka pintu gerbang. Tapi, nggak jadi. Keburu dibukain sama Faiz.

Salat asar. Baca Qur’an lagi. Udah beberapa ayat, baru sadar. Loh, ini sih bukan surat Al-Kahf, malah surat An-Nabiyaa. Wah, salah baca. Mana bentar lagi jam lima. Buru-buru baca lagi surat Al-Kahf. Suara saya saat membaca Qur’an itu gemetaran. Kayak orang lagi naik motor, tau-tau disamperin banci. Mau kabur, masih lampu merah. Mau diem pura-pura ga liat, takut dipalakin. Eh, kayaknya analoginya kurang tepat, ya. Biarin lah, saya suka bahas hal-hal yang saya mau bahas aja. Lagian capek mau ngehapus beberapa kalimat sebelum kalimat ini. Capek lagi ngetiknya.

Sadaqallahul azhim.

Sudah tamat akhirnya. Lirik jam, sudah jam lima lebih tujuh menit. Nyalain laptop. Copy-paste nomor peserta ke kolom nomor peserta. Mengisi tanggal lahir. Klik.

20120529-225658.jpg

Alhamdulillah, ya Allah!

Tidak semua jalan itu lurus. Ada belokan, ada turunan, ada tanjakan.

Untuk mencapai ke sebuah tujuan, tuh, nggak cuma satu jalan. Ada banyak. Ada yang lurus tapi macet, ada juga yang berkelok jauh tapi lebih cepet sampe.

Mungkin awalnya memang berat, jadi beda sekolah dari teman-teman softball. Jadi nggak bisa ikut turnamen bareng. Tapi, ya, semua itu ada hikmahnya. Beda sekolah itu bikin semangat belajar saya terpacu. Saya harus sukses di SMA Negeri 1 Bandung. Harus masuk ke ITB. Nah, kan kalo di ITB bisa setim softball lagi, sama Ricis lagi, walaupun ga semuanya mau ke ITB sih. Tapi, kan, mendingan, ya.

Nah, yang harus dibenahi setelah keterima di ITB tuh cara networking saya.

Di SMA saya emang nggak begitu ngejar harus banyak relasi dengan ikut berbagai organisasi. Soalnya, nggak begitu kepingin. Terus, takutnya kalau ikutan organisasi malah lebih banyak nongkrongnya, terus malah jadi keasikan terus lupa belajar, nah bidang akademiknya ketinggalan. Sayang gitu.

Kalau udah masuk ITB, saya harus bisa menjalin relasi lebih baik. Soalnya penting banget! Buat karier ke depannya. Banyak relasi, banyak rezeki. Ingat, ya, di Indonesia itu udah ga zamannya lagi slogan “banyak anak, banyak rezeki”. Contohnya, ya, dengan slogan “banyak relasi, banyak rezeki”, banyak banget pejabat di Indonesia dengan mudahnya korupsi. Kalau hampir ketauan perilaku bejatnya, tinggal suap sana-sini. Tuh, relasi penting banget kan zaman sekarang?

Akhir kata, wahai para pejuang tulis, semangat, ya! Kalahkan pesaingmu dengan ikhtiar dan doa. Bakarlah api semangatmu! Tapi, jangan bakar sampah depan rumah, ya. Ganggu tetangga tau.

20120529-225713.jpg

HIDUP SEKOLAH BISNIS DAN MANAJEMEN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG!

Standard