Sekarang Semester Genap

Semester genap, semester genap! Sebentar lagi penjurusan. Saya ingin coba tes minat dan bakat tapi di mana ya? Dengan tes minat dan bakat itu jadi saya tak usah susah-susah menekuni bidang yang mungkin saja saya tak ahli di situ. Semester lalu saya dapat ranking 2 di kelas, dan ranking sekolah adalaaaaaah 25! Iya tepat 25! Ah saya tak ingin beranjak. Tapi kita setiap saat harus ada perubahan. Ke arah yang positif tentunya.

Tadi saya privat. Belajarnya matematika bab logika. Kini, mata saya sudah terbuka tentang pelajaran ini, tadi pagi saat belajar di sekolah mata saya terbuka, melotot. Melotot sampai juling. Saya tak tahu apa itu tabel kebenaran, karena yang dijelaskan itu ya tidak jelas. Tidak jelas bukan karena saya miopi. Saya duduk paling depan, jadi mana mungkin tak terlihat apa yang ditulis di papan tulis. Tapi saya juga tak menderita hipermetropi. Karena saya masih muda, tak mungkin lah presbiopi. Saya masih muda. Saya masih muda. Darah muda, darahnya para remaja.

Di pertengahan bulan Februari nanti saya akan mengikuti Giants Cup, yang berarti mengharuskan saya untuk bolos selama satu minggu. Bisa dibilang liburan, liburan penuh dengan rasa cemas akan pelajaran yang tertinggal. Sejak saya menduduki bangku sekolah menengah atas, saya jadi lebih rajin belajar. Untuk apa? Mendapat nilai bagus, mendapat ranking, lalu bisa menjebol pintu universitas mana saja dengan PMDK. Tapi, jurusan apa nanti yang akan saya ambil? Teman-teman sebarisan saya sudah menentukan jurusan apa yang akan mereka kejar, sementara saya? Belum. Saya tak tahu apa bakat saya maupun minat saya. Saya berminat main dan berbakat dalam menjulingkan mata. Tapi mana mungkin  nantinya saya masuk SBM, Sekolah Bermain dan Menjuling, lalu bikin tesis berjudul “Teknik Main dengan Hati Happy” atau “Cara Menjulingkan Mata Tanpa Rasa Sakit dan Tidak Menimbulkan Cacat Permanen”.

Liburan semester ganjil kemarin saya pergi ke Bali. Untuk pertama kalinya. Yang saya sesalkan saat perjalanan liburan kemarin itu saat saya sedang membeli oleh-oleh. Saya sedang mengambil alat musik maracas dan ada satu lagi tak tahu apa namanya, serta ada barang lain juga yang saya bawa. Saya mau tunjukkan ke mama, apa boleh itu semua saya beli. Tak tahunya, bule mengira saya penjaga toko oleh-oleh itu hanya karena saya membawa banyak barang tanpa keranjang belanja dan saya adalah orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi.

Pribumi harusnya menjadi tuan di negara sendiri

Pribumi harusnya menjadi tuan di daerah sendiri

Saya bukan berasal dari Bali

Saya berasal dari Kota Bandung

Bandung yang dibendung gunung

Gunung, mengingatkan saya pada toko ransel gunung

Mengingatkan saya pada monster yeti

Yeti, hei itu nama guru bahasa Indonesia saya di sekolah dasar

Beliau mengajarkan saya berbahasa Indonesia

Beliau mengajarkan saya membuat puisi

Tapi bukan puisi yang seperti ini

Puisi yang penuh dengan keindahan

Kerinduan

Kematian

Kehidupan

Keajaiban

Ya,

Dua puluh lima adalah nomor punggung saya

Kehidupan softball saya akhir-akhir ini sedikit kurang menyenangkan. Hei, kemana teman-teman saya? Mereka hilang dengan kesibukannya itu. Ya sudahlah, saya pun tak peduli. Saya sedang semangat latihan pitching. Jadi saya bisa menguasai semua posisi softball. Saya sudah pernah jaga di outfield, second base,  catcher dan shortstop. Saya sih tak ada niat untuk bermain di posisi pitcher, hanya ingin bisa pitching saja. Karena beban jadi pitcher itu berat. Harus kuat mental dan jaga emosi. Emosi saya? Labil. Sewaktu-waktu bisa saja saya menangis dan menjerit di tengah pertandingan. Namun entahlah saya tak tahu, karena saya belum pernah bertingkah seperti itu. Paling menangis karena latian pitching itu harus jaga emosi, jadi begitu saat mengarahkan bola itu terasa begitu sulit, ya jangan langsung depresi. Tapi saya beda. Saya depresi.

Dalam waktu satu bulan, saya ganti potongan rambut saya duakali. Hal itu tercatat dalam rekor pribadi saya. Karena mana sudi MURI  menjadikannya rekor. Rektor itu yang ada di universitas ya? Yang umumnya bapak-bapak yang sudah tua? Eh apa bukan? Kalo bukan maaf ya pak. Ih Dhila nulis apaan tuh ga penting. Maklumlah, peer udah selesai, hati senang, girang gimbal.

Saya sedang meneliti waria. Saya sangat ingin tahu tentang waria. Mulai dari yang hidungnya bersilikon sampai yang kakinya berbetiskan talas berbulu. Saya turut berduka cita atas menginggalnya waria karena suntik silikon. Saya tahu berita ini dua hari kemarin, tak sengaja, saat saya mau nonton spongebob eh malah si Bobby a.k.a Barbara, bohong deng nama warianya bukan Bobby, tapi saya tak tahu namanya siapa. Namanya juga kebetulan. Bukan, kebetulan bukan nama warianya. Daripada menyebut waria, saya lebih suka menyebut banci. Kenapa? Karena lebih fancy. Menurut saya.

Saya ingin buat cerpen. Saya ingin menggambar. Saya ingin bermain gitar.

Akhir kata,

Monyet ee dipinggir kali, yu dadah yu marii.

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.