Masa Belia

Katakan Dadah Untuk Mie Instan

Dulu, mie instan bagaikan darah yang mengalir dalam kehidupan saya. Setiap hari, pasti makan satu bungkus. Entah itu siang, entah itu malam, mie instan ada dipikiran saya. Mie instan kesukaan saya itu tipe goreng. Tipe rebus gimana? Ya kalau haus ya makan mi rebus biar ga usah minum lagi nantinya.

Mulai dari TK, waktu itu saya TK setahun di Batam. Di Batam, mie instan merek Indomie juga dong. Pendistribusian Indomie itu memang ke seluruh nusantara pasti ada. Di Timor Leste juga ada. Pulang dari TK makan mie. Makan mie itu enaknya pake nasi yah. Wiuh membayangkannya enak sekali pasti. Masuk SD pindah ke Jakarta, ada mie juga dong. Tapi saya tak begitu ingat apakah saya sering makan mie di Jakarta. Pas kelas 2 pindah ke Bandung, nah ini saya ingat betul kebiasaan saya melahap mie. Sehari sampai 3 kali. Ke sekolah, sekolah saya SDN Banjarsari, kalau istirahat juga kadang beli mie di Bi Dedeh. Enaaak sekali.

Waktu jamannya mie Selera Rakyat yang harganya cuma Rp 500,00 itu booming, saya coba juga dong. Belinya ke warung dekat rumah. Pulangnya dimasak terus dimakan. Hm, porsinya yang begitu sedikit masih menyisakan banyak tempat di lambung saya. Maka saya beli lagi, tak lupa minta izin ke mama, dan tak lupa minta uangnya juga. Dengan semangat saya melangkah ke warung dan beli lagi. Pulangnya dimasak terus dimakan. Hm, memang dua tak cukup, okelah saya beli satu lagi. Minta izin dan uang ke mama, lalu berangkat ke warung. Makan lagi setelah dimasaaak! Setelah merasa kenyang, saya putuskan untuk tidak beli lagi.

Cara menyajikan mie instan selain direbus, saya juga kadang meremas bungkusnya, jadi kayak Mie Remez, ditaburkan bumbu lalu dimakan. Tapi keasinan. Tips dari saya: “Kalau mau makan mie instan indomie misalnya, dijadikan mie remez, jangan ditaburkan semua bumbunya. Soalnya asin.”

Oh iya, dulu saat saya pertama kalinya saya coba mi instan dari Mie Sedaap, saya lumayan suka. Tapi beberapa waktu kemudian, saya memutuskan bahwa Indomie memang mie instan sejati! Selain itu saya juga pernah mencoba mie nissin, rasanya begitu khas. Enak juga. Ya namanya makanan, wajarnya harus enak.

Kini, kebiasaan saya mengonsumsi mie instan sudah berhenti total. Saya mulai tak mengkonsumsi mie instan sejak Oktober 2007 lalu. Saya tak tahu apa alasan saya tidak makan mie lagi. Tapi kalau tak salah dulu saya bernazar tidak makan mie satu tahun kalau berhasil melakukan sesuatu. Nah, sesuatu itu apa ya? Apa yang membuat saya membuat nazar tak mengkonsumsi mie instan? (aduh nazarnya aneh ya)

Bagi saya, berhenti makan mie instan satu tahun itu tak cukup. Mari lanjutkan sampai dua tahun! Oh iya, saya dukung SBY jadi presiden! Silahkan anda pimpin bangsa ini pak!

Akhir kata, katakan tidak dadah untuk mie instan.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s