Saya Merasa Pusing Karena Kafein

Sore tadi, pulang sekolah, saya dan Ica menunggu waktunya les tiba. Kami mengunjungi Riau Junction. Untuk apa? Belajar tentunya. Minggu ini, kami para penghuni kelas 9 menghadapi yang namanya Uji Mantap II. Muak memang. Namun apa daya. Hasrat hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai, hasrat hati bicara busuk apa daya terlalu jijay.

Jadi, FoodLife lah tujuan kami. Setelah menemukan sofa yang nyaman, kami membanting tas di sofa itu dan berlari-lari menjemput ajal yang ada di pelupuk mata. Boong deng. Kami jalan ke de Lounge mau beli minum. So so an gitu deh. Saya membeli Cinnamon Caffe Latte, Ica beli Caffe Latte. Biasa, anak remaja suka mencoba hal hal yang baru. Sotoooy. Ah ngga lah, saya tak berniat dan tak ada maksud untuk menjadi anak yang sotoy. Say no to sotoy, say yes to sotoy ayam. Sip.

Sekembalinya ke meja tempat kami membanting sofa, eh tas, saya menemukan fakta yang menarik! Tas kami ada dua! Dan yang satunya berwarna abu motif hijau adalah milik saya! Oke.

Kami menulis catatan rumus-rumus fisika di buku catatan! Di buku catatan! Hei, aku menemukan petunjuk Blue! dsc04232Boong.
Di tengah-tengah saat kami asyik menulis, datanglah mas-mas FoodLife mengantarkan pesanan kami.

Saat dicoba, glek glek. Hooeeek pahit! Muntaaah, muntaaaaah.   Belom dikasi gula. Ditambahin gula deh. Glek glek. HMM! GA ENAK! Mending tadi pesen yang wajar-wajar aja deh kayak Iced Chocolate. Ica aja pake masukin gula satu setengah bungkus. Pake so so an minuman bussinessman ternyata bukan selera gue. Ga gue banget deh. Rasa minuman ini merasuk ke jiwa, membakar sukma, menggeledah seluruh asa di jiwa. Bola mata pun membalik seketika. Ya aku jadi gila! Boong.

Begitu selese menulis, dan karena waktu les sudah tiba, berpisahlah kami yang berbeda tujuan. Di Tridaya, saya belajar tentang banyak hal, kawan. Saya belajar bagaimana cara menulis angka dua dengan baik dan banar dan bagaimana cara menulis angka delapan tanpa putus. Boong. Ah, mengapa begitu banyak dusta pada tulisan yang saya tulis? Mungkin karena dusta adalah hal yang mendarah daging, bertulang ayam yang mencengkram bumi pertiwi. Boong.

Pas lagi belajar, kepala kayak diputer-puter lo! Serasa naik Rajawali Condor tapi Rajawalinya itu diiket ke wahana Tornado. Ngga deng, kayak kepalanya Tina Toon. Dan, sampai sekarang, saya masih merasakan jiwa Tina masih ada tertanam pada diri saya. Masih pusing maksudnya.

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.